Sabtu, 19 Desember 2009

Hidayah dari Bar

Dua minggu menjelang Ramadan tahun ini, tepatnya Agustus 31, seperti biasa saya datang ke Islamic Center of New York, tapi kali ini agak telat. Selain karena memang sedang melakukan beberapa pekerjaan pribadi, juga karena di Islamic Center sekolah akhir pekan (weekend school) masih diliburkan. Jadi, saya tidak harus datang lebih awal seperti ketika masih ada sekolah akhir pekan.

Memasuki Islamic Center sekitar setengah 12 siang itu juga masih terasa sepi. Tapi ketika melintasi resepsionis, di ruang itu telah menunggu seorang perempuan separuh baya. Seperti biasa, selain mengucapkan salam kepada petugas resepsionis, juga saya sapa perempuan itu dengan "hi, good morning!". Dengan sedikit senyum dia manjawab "Good morning".

Saya kemudian diberitahu bahwa perempuan itu telah datang sejak jam 9-an pagi. Mungkin karena menyangka bahwa jam buka di Islamic Center persis jam kerja di perkantoran. Jadi dia bermaksud untuk datang sebelum ada kegiatan-kegiatan yang menyibukkan. Tentu saya merasa bersalah. Maka saya katakan "I am very sorry for being late?". Dengan ramah dia jawab: "Oh it's ok. I was prepared to wait!".

Saya langsung mengajaknya ke ruang pertemuan. Kelihatannya perempuan ini sangat hati-hati, baik dalam bersikap maupun dalam berucap. Bahkan ketika akan memasuki ruangan itu, dia harus bertanya dulu apakah boleh masuk atau belum. Mungkin pernah membaca atau mendengar bahwa di mesjid itu harus sopan, dll.

"Hi, welcome! What's you name?", saya memulai percakapan itu. "Catherine", jawabnya pelan, hampir saja tidak kedengaran. Saya memulai bertanya tentang pribadinya, seperti tempat tinggal, asal usul, dll. "I am from here, but my parents are living in Upstate", jelasnya. "Now, may I know why you are here today?". Dengan sedikit menunduk dia menjawab: "I don't know what to say. But can I tell you a little bit about my back ground?", tanyanya. "Of course, you are free to say what you want to say".

Dia menarik nafas lalu mulai bercerita. Cerita yang cukup penjang dan sedikit berbelit-belit. Dari cerita panjang itu dia menyampaikan bahwa dia termasuk anak yang seharusnya beruntung. Orang tuanya, menurutnya, beragama dan juga berpendidikan tinggi. "I enjoyed that privilege. I went to the best school, best college and university", katanya. "Which university did you go?" tanya saya. "Columbia university", jawabnya. "Graduated?". "Yes, I finished my Master Degree in Journalism" jelasnya.

"So where are you now?". Maksud saya, dimana dia sekarang ini bekerja. Dia kemudian menampakkan wajah sedih, menarik napas lalu bercerita. Setamat kuliah dia tidak peduli mencari kerja. Menurutnya, di masa kuliah itu dia berkenalan dengan seorang yang kaya dan royal. Dialah yang selalu memenuhi kebutuhannya. Teman yang dia panggil "boy friend" itu dia kenal di sebuah bar di suatu malam. Sejak itu perkenalan itu menjadi lebih dekat dan menjadilah mereka pasangan "boy-girl friends". Keduanya hidup di sebuah apartemen mewah di Manhattan .

Menurutnya lagi, teman prianya itu walau selalu minum alcohol di night club, tapi juga kalau berdiskusi selalu mengait-ngaitkan argumentasinya dengan agama yang dianutnya, yaitu Islam. Bahkan di rumah dia, menurutnya lagi, ada Al-Quran dan buku-buku Islam. Bahkan tidak jarang mengajarkan Catherine tentang Islam. Sambil tersenyum kecut, Catherine mengatakan: "But now, we are not together any more".

Saya kemudian menjelaskan, betapa memang banyak umat Islam seperti itu. Agama bagi kita adalah sesuatu yang serius, tapi tidak semua bisa "commit" dengannya ajarannya. Ada orang yang siap mati membela agama ini, tapi belum tentu juga mempraktekkannya. "So what happens afterwards?", tanyaku kemudian. Catherine menjelaskan bahwa ternyata bacaan yang selalu ia ingat di rumah mantan pacarnya itu adalah Al-Quran.

"I searched it further on the internet and surprisingly I found a lot of interesting things", jelasnya. "So, what do you think about Islam and deep did you search about it?", tanyaku. Dia mengatakan bahwa dia sudah belajar mengenai five pillars (lima rukun Islam). Dia bahkan belajar sendiri mengerjakan shalat, tapi bacaannya tidak bisa dilakukan.

Saya tidak berpanjang lebar lagi berbicara dengan Catherine. Saya langsung bertanya: "Do you think, Islam is the right way for you to follow?". Dia sepertinya senang dan langsung mengatakan: "I am sure about that. But I am worried that I can not commit my self into it". Nampaknya Catherine khawatir menjadi seperti mantan pacarnya, yang sangat yakin dengan agamanya tapi gagal melaksanakannya.

Saya kemudian menjelaskan bahwa memang dalam beragama itu diperlukan komitmen. Dan komitmen itu diawali dengan niat dan tekad yang bulat. Jika niat itu sudah ada, selebihnya adalah usaha dan doa. "you know, combining your efforts and commitment will bring Allah's help to make you a better Muslim", kataku memotivasinya. "My question is, are you ready to accept Islam as your new faith?", pancingku. Dengan sedikit pelan, mungkin masih ragu, Catherine mengangguk sambil mengatakan: "Yes, I think it's the time for me".

Tanpa mengundur-undur waktu lagi, saya menelpon resepsionis untuk memanggil dua saksi. Alhamdulillah, disaksikan oleh para saksi pagi itu, Catherine resmi memeluk Islam sebagai jalan hidupnya yang baru. Allahu Akbar!

New York , 27 September 2007, Kabar Dari New York

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar