Wednesday, July 13, 2011

Pendi Liong: Dari Bisnis Maksiat Menuju Bisnis Islami

Pencarian kebenaran agama kujalani selama 15 tahun hingga di Stafushire Inggris.

Namaku Muhammad Pendi Leong, lahir 10 November 1972. Aku dilahirkan di keluarga Tionghoa beragama Budha. Sejak kecil aku hidup dalam keluarga yang memiliki harta yang berkecukupan. Orang tuaku pemilik sebuah Supermaket ternama di kota Medan yakni, Macan Yohan Supermaket. Karenanya mereka menyekolahkanku sejak kecil di Dunmand Schools Singapura.

Sejak aku SD, umur sepuluh tahun, aku selalu berpikir tentang tuhan dan mencari kebenaran adanya tuhan. Padahal saat itu aku masih kecil dan tidak mengerti tentang agama. Selalu saja timbul pertanyaan di hatiku; kenapa banyak agama padahal tuhan hanya satu? Kenapa manusia saling berselisih padahal tuhannya sama? Saat itulah aku hidup dengan tanda tanya.

Singkat cerita, dalam perjalanan studiku di negeri tetangga, aku selalu mencari kebenaran tentang tuhan. Hingga aku terkadang lupa akan studiku. Selama 15 tahun aku mencari kebenaran agama Kristiani dan Hindu di sana. Aku belajar secara ilmiah dan bertanya langsung dengan tokoh agama (pendeta).

Herannya, selama itu pula belum terbisikkan sedikitpun tentang Islam. Aku pun terus penasaran. Perjalanan mencari kebenaran tuhan itupun kulakukan hingga di Stafushire Inggris, tempatku kuliah.


Mengenal Islam

Tahun 1995 aku kembali ke Medan. Aku melanjutkan bisnis orangtuaku sebagai direktur supermarket milik orang tuaku. Sampai tahun 1998 usahaku maju dan berkembang hingga aku memiliki banyak tempat hiburan malam (diskotik, cafe dan restoran) di Jl Thamrin Medan ketika itu. Puluhan juta rupiah pun kuhasilkan setiap malam.

Aku mulai mengenal Islam, ketika sehari sebelum Rama-dhan tahun 1998, saat aku hendak pulang ke rumah di kompek Pondok Asri Medan dari Planet Cafe tempat usahaku. Sepeti biasa, aku mendengarkan radio untuk menghilangkan kepenatan di mobilku. Saat aku pencet powernya, langsung terdengar kumandang adzan. Sontak aku heran atas apa yang terjadi di badanku. Pasalnya, badanku kontan merinding gak karuan ketika mendengarnya. Ini kejadian aneh, menurutku.

Tak lama kemudian, melalui kaca samping mobilku, aku melihat banyak umat Islam yang berbondong -bondong menuju mesjid. Sejak itulah, aku tahu kalau adzan adalah panggilan shalat untuk orang Islam.

Setelah kejadian itu, setiap menjelang magrib dan terdengar suara adzan selalu saja badanku meriang. Hati ini seakan ada yang mengajarkan sesuatu tentang kebenaran. Keanehan lain, ketika ada yang datang bertamu selalu saja aku ceramahi, dan tidak lagi selalu bercerita tentang bisnis. Begitu selanjutnya hingga berakhir Ramadhan tahun itu.

Kejadian aneh pada suatu hari aku bermimpi. Dalam mimpi, aku bertemu dengan dua orang berjubah putih mengetuk pintu kamar. Setelah itu, mereka masuk ke kamar kemudian aku keluar dengan jubah hitam bersama mereka. Kejadian itu seakan sangat nyata sekali.

Tiga hari kemudian, kejadian aneh juga terjadi ba'da magrib saat aku pulang dari kantor. Ketika itu, aku duduk istirahat bersantai di salah satu ruangan di rumahku. Di ruang kosong sebelah ruangan di mana aku duduk terdapat sebuah cermin hias di atas meja. Saat itu cermin tersebut jatuh, sontak aku kaget karena mendengar suara cermin pecah. Padahal cermin itu di atas meja, padahal dilihat dari posisinya, tidak mungkin cermin itu jatuh- kalau tidak dihembus angin yang kencang. Tapi karena sudah jatuh dan pecah akupun bergegas untuk membersihkan serpihan cermin tersebut. Tidak kuhiraukan lagi apa penyebab jatuhnya.

Namun saat aku bersihkan bekas pecahan cermin, tepat bagian belakang penyokongnya ada satu tulisan yang aku ketahui sebelumnya tulisan Arab. Karena tidak mengerti apa bacaannya, kemudian kupanggillah pembantuku. Dan kutanya, tulisan apa itu? Ia menjawab, ''Itu tulisan Allah tuhan kami''. Kemudian badanku bergetar ini dan merasa tidak enak. Sontak aku seakan diajak kembali mengingat secara cepat dan rinci tentang masa kecilku ketika aku bertanya tentang tuhan.

Kemudian, aku hubungi teman dekatku, Mas Sukri ketika itu sebagai Danramil Bukit Tinggi dan aku banyak bercerita dengan dia tentang kejadian kejadian aneh yang aku alami. Keeseokan harinya, ia langsung mengajakku ke Mesjid Al Manar, Jl Amanliun, dan di sanalah aku bersyahadat dan disaksikan oleh Mas Sukri.


Tantangan Bisnis Dan Keluarga

Awalnya, orang tuaku belum tahu kalau aku sudah masuk Islam. memang aku juga tidak memberi tahu mereka. Namun mereka sudah mendengar dari orang lain.

Suatu saat mereka mengajakku untuk makan di salah satu rumah makan yang menyediakan makanan yang haram bagi umat Islam. Saat ditawari makanan haramitu, aku menolak. Langsung mereka bertanya, ”Apakah kamu sudah masuk Islam?” Langsung kujawab, ”Ya.” Orang tuaku langsung memberikan iming- iming agar aku kembali ke agama Budha. Sampai-sampai akhirnya mereka mengancam untuk menarik semua asetnya di Supermaket yang kukelola. Akhirnya mereka memang mengambil semua aset dan menyerahkan posisiku kepada adikku. Tidak hanya itu, mereka juga tidak menganggapku sebagai anaknya.

Tinggal sebuah rumah yang kupunya. Sejak itu, dua tahun aku tidak pernah keluar rumah. Di samping karena masih merasa 'malu' karena awalnya berkehidupan cukup selanjutnya tidak lagi, juga karena sejak itu tidak ada usaha yang bisa kulakukan.

Dalam dua tahun itu aku belajar dengan Pak Nur tentang Islam. Mulai dari belajar membaca Alquran hingga belajar banyak tentang Islam sebagai sebuah ideologi. Selama itulah juga di tahun 2003 aku membuka les bahasa Inggris dan belajar Alquran di rumah untuk menambah biaya hidup.

Meski tak dianggap anak lagi, aku tetap berusaha mengunjungi orang tuaku. Suatu saat di tahun 2004, akhirnya mereka menerimaku kembali.

Saat itulah aku mulai membuka supermaket Macan Syariah (di ambil dari nama Macan Yohan) yang berbasis Islam. Tantangan pun belum berhenti. Tidak gampang mengembangkan bisnis seperti ini. Dengan loby dan komitmen bahwa, 'halal itu barakah' akhirnya aku dapat membuka supermaket berbasis syariah dengan nama yang baru yakni Madinah Syariah yang hingga kini menjadi satu satunya supermarket berbasis Islam. Insyaallah.[mediaumat.com]

Mahasiswa Teolog jadi Mualaf gara-gara ketemu muslim pemikir

Dan inilah kisahnya,aku Andreas Ibrahim terlahir di keluarga Protestan pada 1965 di Jakarta. Aku selalu pindah rumah dan sekolah mengikuti tempat ayahku dinas sebagai polisi. SMA-ku di Medan.Tahun 1991 pindah ke Jogja. Sekarang tinggal di Ciputat.
Pada 1997 aku kuliah teologi di Jogja. Setahun kemudian, aku sering berdebat dengan para ustadz. Satu-persatu mereka mundur karena kalah beradu argumen denganku. Aku selalu mudah mengalahkan mereka, karena mereka kurang mendalami agamanya apalagi agamaku. Sedangkan aku setiap hari dituntut untuk belajar Alquran dan Bible sebagai bekal mengkristenkan orang Islam. Dalam mempelajari keduanya, banyak kutemukan perubahan dalam Bible tetapi tidak dengan Alquran.
Di negara manapun Alquran dicetak selalu menggunakan bahasa Arab yang sama persis meskipun tahun cetaknya berbeda. Sedangkan Bible, beda tahun terbit beda pula redaksi ayatnya. Misalnya, pada cetakan tahun 1941 dan 1991 disebutkan haram makan babi (Imamat 11:7-8) sedangkan dalam cetakan 1996 dan 2007 di ayat yang sama yang haram itu makan babi hutan. Artinya, kalau yang diternak tidak haram dong!

Aneh, kapan Tuhan meralatnya? Dan banyak kontradiksi lainnya yang mengguncang imanku. Tapi aku belum melirik Islam. Karena aku masih menilai Islam dari apa yang diperbuat oleh umatnya.
Aku menemukan banyak ayat Bible yang bertentangan. Namun selama lima tahun tidak satu pun ustadz yang kutemui dapat meyakinkanku untuk masuk Islam, sampai akhirnya bertemu seorang Muslim pemikir
Mandi Kembang
Tahun 2000 aku ditugaskan ke Madura. Di sana aku bertemu Kyai Imran di Batu Ampar. Ia bicara apa pun aku tak peduli. Karena yang ada dibenakku bagaimana membuat orang lain masuk Kristen. Dia mempersilakan membaca sepuasku di perpustakaan pribadinya.
Mulailah aku tertarik pada Islam, apalagi ketika membaca sejarah Nabi Muhammad SAW menyampaikan ajarannya di Mekah dan penerapan Islam di Madinah. Sampai berkembang pesat memimpin peradaban dunia.
Kucatat informasi penting dari tiap buku yang kubaca. Salah satu bukunya berjudul Islam dari A sampai Z. Buku itu sangat luar biasa bagiku. Membahas masalah ekonomi, sosial, budaya dan lainnya dari sudut pandang Islam dibandingkan dengan sistem di Inggris.
Sepulang dari sana, pada 2001, aku malah kuliah Teologi lagi di Grogol Jakarta. Tahun 2002 kuutarakan keinginanku untuk masuk Islam pada teman Muslimku. Ia mempertemukanku dengan seorang kyai di Pandeglang. Hari Kamis, kami menginap di rumahnya. Aku disuruh mandi kembang pada malam hari sebelum mengucapkan syahadat menjelang Shalat Jum’at.
Kiai itu menyalakan menyan, memotong ayam. Aku disuruh mandi kembang. Dalam hatiku berkata, selama aku belajar Islam tidak ada yang seperti ini. Yang kutahu Rasulullah SAW hanya membimbing syahadat saja. Aku merasa tidak enak untuk menanyakan mengapa ritual ini dilakukan. Maka, ketika ada kesempatan, aku langsung kabur!
Muslim Pemikir
Pada 2 Agustus 2003, aku berkenalan dengan Budiman Sitompul. Ketika kutahu dia orang Islam, kuutarakan masalahku. Ia berjanji akan mempertemukanku dengan seorang ustadz yang tanpa ritual aneh seperti itu. Tiga hari kemudian, kami dipertemukannya.
”Saya Wayuman Wongso seorang Muslim Pemikir,” ujar ustadz yang lebih senang disebut Abu Hisan itu. ”Puji Tuhan, aku dipertemukan dengan Muslim pemikir dan saya Andreas Abraham, seorang Kristen pemikir juga,” kataku. Kami pun berdiskusi. Dia menerangkan Islam mirip sekali dengan buku-buku yang kubaca di Madura itu.
Kemudian dia pun berkata, ”Tapi maaf, bila Anda melihat kondisi umat Islam saat ini, Anda jangan langsung menganggap konsep Islam salah. Sebab sejak keruntuhan kepemimpinan Islam di Turki umat Islam menjadi tercerai berai seperti ini”. Ia pun menjelaskan panjang lebar tentang akidah Islam dan kontinyuitas kepemimpinan sejak Rasul hijrah ke Madinah sampai runtuhnya Khilafah di Turki.
Aku langsung teringat perkataan dosen lintas agama Edwyin Luiskul ketika mengisi kuliah di Grogol. Ia bilang, jangan takut kepada orang Islam meskipun mereka mayoritas dalam jumlah tetapi minoritas dalam peranan. Karena mereka tidak memiliki ikatan kemimpinan. Islam akan kembali menjadi raksasa yang kuat bila satu ikatan kepemimpinan.
Aku dan Abu Hisan pun berdiskusi setiap hari. Namun pada hari Kamisnya aku diundang gereja untuk memberikan siraman rohani di salah satu hotel di Jakarta. Tentu saja dalam hatiku terjadi konflik batin. Tidak mungkin aku menolaknya karena itu salah satu tugasku sebagai pendeta.
Untuk itu aku digaji setiap bulan. Ditambah perlengkapan dan keperluan rumah tangga, pendidikan anak-anakku, semua biaya berobat aku dan anak istriku ditanggung gereja. Bila aku sampaikan tekadku untuk masuk Islam, jelas aku akan kehilangan itu semua.
Pulang dari hotel, aku sangat gelisah. Maka aku langsung menemui Muslim pemikir itu. Kuceritakan semua. Dia malah curhat padaku, tetapi justru itulah yang membuatku bertekad bulat untuk memeluk dan mendalami Islam. Dia berkata bahwa dia itu tadinya seorang pengacara, mendapatkan uang banyak, tapi hidupnya menderita. Karena dia, mau tidak mau, harus membela klainnya yang bersalah.
Ia pun meninggalkan pekerjaannya setelah bertobat berbalik pada kebenaran konsep Islam yang ia dapatkan dari aktivis Islam yang mengontaknya. “Alhamdulillah saya sekarang bisa bersyukur apa adanya, senang dakwah mengajak umat Islam menerapkan syariat Islam,” ujarnya.
Aku semakin yakin orang inilah yang kucari, aku teringat ucapan dosen lintas budaya Rambadeta di Grogol. Ia mengatakan Islam itu syariat, syariat itu Islam. Jadi jangan sampai umat Islam menerapkan syariat. Karena hal itu akan menjadikan umat Islam kembali menjadi raksasa dan kita semut!
Sejak itu aku bertekad bulat untuk memilih Islam apapun risikonya dan turut berjuang agar umat Islam kembali menjadi raksasa. Maka esoknya, sebelum shalat Jum’at, dengan disaksikan tokoh masyarakat Serua Ciputat, aku dibimbing Muslim pemikir itu untuk bersyahadat. Alhamdulillah.[mediaumat]

Monday, July 11, 2011

Bersyahadat Setelah 8 Tahun Baca Al-Quran

Saya dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristen yang taat. Saat itu, orang Amerika lebih religius dibandingkan masa sekarang–contohnya, sebagian besar keluarga pergi ke gereja setiap Minggu. Orang tua saya ikut dalam komunitas gereja. Kami sering mendatangkan pendeta ke rumah. Ibu saya mengajar di sekolah minggu, dan saya membantunya

Pastinya saya lebih relijius dibandingkan anak-anak lainnya, meskipun saya tidak merasa seperti itu dulu. Satu saat ketika ulang tahun, bibi saya memberi hadiah sebuah Bibel, dan untuk saudara perempuan saya ia memberi sebuah boneka. Lain waktu saya minta dibelikan buku doa kepada orang tua, dan saya membacanya setiap hari selama beberapa tahun.
Ketika saya SMP, saya mengikuti program belajar Bibel selama dua tahun. Ketika itu saya sudah mengkaji sebagian dari Bibel, meskipun demikian saya belum memahaminya dengan baik. Kemudian saya mendapat kesempatan mempelajarinya lebih dalam. Sayangnya, kami belajar banyak petikan di dalam Perjanjian Lama dan Baru yang tak dapat dipahami, bahkan terasa aneh.
Sebagai contoh, Bibel mengajarkan tentang adanya dosa awal, yang artinya semua manusia dilahirkan dalam keadaan berdosa. Saya punya adik bayi, dan saya tahu ia tidak berdosa.
Bibel mengandung banyak cerita aneh dan sangat meresahkan, misalnya cerita tentang nabi Ibrahim dan Daud. Saya tak dapat mengerti bagaimana mungkin para nabi bisa mempunyai kelakuan seperti yang diceritakan dalam Bibel.
Ada banyak hal lain dalam Bibel yang membingungkan saya, tapi saya tidak mempertanyakannya. Saya terlalu takut untuk bertanya–saya ingin dikenal sebagai “gadis baik”.
Alhamdulillah, akhirnya ada seorang anak laki-laki yang bertanya, dan ia terus bertanya. Bocah itu banyak bertanya tentang trinitas. Ia mendapatkan banyak jawaban tapi tidak pernah puas. Sama seperti saya. Akhirnya guru kami, seorang profesor teologi dari Universitas Michigan, menyuruh untuk berdoa minta keteguhan iman. Saya pun berdoa.
Hal yang paling penting adalah tentang trinitas. Saya tidak bisa memahaminya. Bagaimana bisa Tuhan terdiri dari tiga bagian, yang salah satunya adalah manusia? Di sekolah saya juga belajar mitologi Yunani dan Romawi, sehingga menurut saya pemikiran tentang trinitas dan orang suci seperti pemikiran budaya Yunani dan Romawi yang mengenal banyak dewa, yang masing-masing bertanggung jawab atas aspek kehidupan yang berbeda (astagfirullah!).
Ketika SMA diam-diam saya ingin menjadi seorang biarawati. Saya tertarik untuk melakukan peribadatan setiap harinya, tertarik kehidupan yang sepenuhnya dipersembahkan untuk Tuhan, dan menunjukkan sebuah gaya hidup yang relijius. Halangan atas ambisi ini hanya satu: saya bukan seorang Katolik. Saya tinggal di sebuah kota di wilayah Midwestern, di mana Katolik merupakan minoritas yang tidak populer.
Saya bertemu seorang Muslim dari Libya. Ia menceritakan saya sedikit tentang Islam dan Al-Quran. Ia bilang Islam itu modern, agama samawi yang paling up-to-date. Karena saya menganggap Afrika dan Timur Tengah itu terbelakang, maka saya tidak bisa melihat Islam sebagai sesuatu yang modern.
Keluarga saya mengajaknya ke acara Natal di gereja. Bagi saya acara itu sangat menyentuh dan berkesan. Tapi diakhir acara ia bertanya, “Siapa yang membuat aturan peribadatan seperti itu? Siapa yang mengajarkanmu kapan harus berdiri, membungkuk dan berlutut? Siapa yang mengajarimu cara beribadah?”
Saya menceritakan kepadanya sejarah awal gereja. Awalnya pertanyaannya itu sangat membuat saya marah, tapi kemudian saya jadi berpikir. Apakah orang-orang yang membuat tata cara peribadatan itu benar-benar punya kualifikasi untuk melakukannya? Bagaimana mereka bisa tahu bagaimana peribadatan itu harus dilakukan? Apakah mereka dapat wahyu tentang itu?
Saya sadar jika saya tidak mempercayai banyak ajaran Kristen, namun saya tetap pergi ke gereja. Ketika kredo Nicene dibacakan bersama-sama, saya hanya diam, saya tidak turut membacanya. Saya seperti orang asing di gereja.
Ada kejadian yang sangat mengejutkan. Seseorang yang sangat dekat dengan saya mengalami masalah dalam rumah tangganya. Ia pergi ke gereja untuk meminta nasihat. Orang dari gereja itu justru memanfaatkan kesusahan dan penderitaannya. Laki-laki itu mengajaknya ke sebuah motel dan kemudian merayunya.
Sebelumnya saya tidak memperhatikan benar apa peran rahib dalam gereja. Sejak peristiwa itu saya jadi memperhatikannya. Sebagian besar umat Kristen percaya bahwa pengampunan harus lewat sebuah acara peribadatan suci yang dipimpin oleh seorang pendeta. Tidak ada pendeta, tidak ada pengampunan.
Saya mengunjungi gereja, duduk, dan memperhatikan pendeta yang ada di depan. Mereka tidak lebih baik dari umat yang datang–sebagian di antaranya bahkan lebih buruk. Jadi bagaimana bisa seorang manusia biasa, diperlukan sebagai perantara untuk berkomunikasi dengan Tuhan? Mengapa saya tidak bisa berhubungan langsung dengan Tuhan, dan langsung menerima pengampunannya?
Tak lama setelah itu, saya mendapati terjemahan Al-Qur’an di sebuah toko buku. Saya lalu membeli dan membacanya, dan terus membaca, walau kadang terputus, selama delapan tahun. Selama itu saya juga mencari tahu tentang agama lain.
Saya semakin khawatir dan takut dengan dosa-dosa saya. Bagaimana saya tahu Tuhan akan memafkan dosa-dosa saya? Saya tidak lagi percaya dengan metode pengampunan ala Kristen akan berhasil. Beban-beban dosa begitu berat bagi saya, dan saya tidak tahu bagaimana membebaskan diri darinya. Saya sangat mengharapkan ampunan.
Membaca Al-Quran
Suatu kali, aku membaca Al-Quran yang bunyinya: “Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu ada rahib-rahib, juga sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Quran dan kenabian Muhammad S.A.W). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh? [Al-Maidah: 82-84]
Saya mulai berharap bahwa Islam mempunyai jawabannya. Tapi bagaimana cara saya mencari tahu? Dalam berita di televisi saya melihat Muslim beribadat. Mereka punya cara tertentu untuk berdo’a. Saya menemukan sebuah buku–yang ditulis oleh non-Muslim–yang menjelaskan cara beribadah orang Islam. Kemudian saya mencoba melakukannya sendiri. Kala itu saya tidak tahu tentang taharah dan saya shalat dengan cara yang keliru. Saya terus berdoa dengan cara itu selama beberapa tahun.
Akhirnya kira-kira 8 tahun sejak pertama kali saya membeli terjemahan Al-Quran dulu, saya membaca: “Pada hari ini telah ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” [Al- Maidah: 3]
Saya menangis bahagia, karena saya tahu, jauh sebelum bumi diciptakan, Allah telah menuliskan bahwa Al-Quran ini untuk saya. Allah mengetahui bahwa Anne Collins di Cheektowaga, New York, AS, akan membaca ayat ini pada bulan Mei 1986.
Saya tahu banyak hal yang perlu dipelajari, seperti bagaimana cara shalat yang benar, sesuatu yang tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Quran. Masalahnya saya tidak kenal seorang Muslim satu pun.
Sekarang ini Muslim relatif mudah dijumpai di AS. Dulu saya tidak tahu di mana bisa bertemu mereka. Saya mendapatkan nomor telepon sebuah komunitas Muslim dari buku telepon. Saya lalu coba menghubunginya. Seorang laki-laki menjawab di seberang sana, saya panik lalu mematikan telepon. Apa yang akan saya katakan padanya? Bagaimana mereka akan menjawab pertanyaan saya? Apakah mereka akan curiga? Akankah mereka menerima saya, sementara mereka sudah saling memiliki dalam Islam?
Beberapa bulan kemudian saya kembali menelepon masjid itu berkali-kali. Dan setiap kali saya panik, saya menutupnya. Akhirnya, saya menulis sebuah surat, isinya meminta informasi. Seorang ikhwan dari masjid itu menelepon saya dan kemudian mengirimi saya selebaran tentang Islam. Saya katakan padanya bahwa saya ingin masuk Islam. Tapi ia berkata pada saya, “Tunggu hingga kamu yakin.”
Jawabannya agar saya menunggu membuat saya kesal. Tapi saya sadar, ia benar. Saya harus yakin, sebab sekali menerima Islam, maka segala sesuatunya tidak akan pernah lagi sama.
Saya jadi terobsesi dengan Islam. Saya memikirkannya siang dan malam. Dalam beberapa kesempatan, saya mengendarai mobil menuju ke masjid (saat itu masjidnya berupa sebuah rumah yang dialihfungsikan menjadi masjid). Saya berputar mengelilinginya beberapa kali sambil berharap akan melihat seorang Muslim, dan penasaran seperti apa keadaan di dalam masjid itu.
Satu hari di awal Nopember 1986, ketika saya memasak di dapur, sekonyong-konyong saya merasa jika saya sudah menjadi seorang Muslim. Masih takut-takut, saya mengirim surat lagi ke masjid itu. Saya menulis: Saya percaya pada Allah, Allah yang Maha Esa, saya percaya bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, dan saya ingin tercatat sebagai orang yang bersaksi atasnya.
Ikhwan dari masjid itu menelepon saya keesokan harinya, dan saya mengucapkan syahadat melalui telepon itu. Ia berkata bahwa Allah telah mengampuni semua dosa saya saat itu juga, dan saya seperti layaknya seorang bayi yang baru lahir.
Saya merasa beban dosa-dosa menyingkir dari pundak. Dan saya menangis karena bahagia. Saya hanya sedikit tidur malam itu. Saya menangis, mengulang-ulang menyebut nama Allah. Ampunan yang saya cari telah didapat. Alhamdulillah. [www.hidayatullah.com]

Saturday, July 9, 2011

Yahudi AS, Amalia Rehman: “Telah Saya Temukan Kebenaran Itu”

Meski sudah 20 tahun berselang, Amalia Rehman, tidak bisa melupakan peristiwa bersejarah yang telah mengubah jalan hidupnya. Peristiwa ketika ia memutuskan mengucap dua kalimat syahadat dan menjadi seorang Muslim.
Amalia lahir dari keluarga Yahudi, ibunya seorang Yahudi Amerika dan ayahnya seorang Yahudi Israel. Ayah Amalia, Abraham Zadok bekerja sebagai tentara pada masa-masa pembentukan negara Israel tahun 1948. Kedua orang tuanya termasuk Yahudi yang taat, tapi menerapkan sistem pendidikan yang lebih moderat pada Amalia dan kedua saudara lelakinya. Amalia dan keluarganya pergi ke sinagog hanya jika ada perayaan besar agama Yahudi.
Sejak kecil Amalia dikenal sebagai anak yang cerdas dan ambisius. Pada usia 13 tahun, Amalia mulai merasa ingin menjadi orang yang lebih relijius. Karena ia menganut agama Yahudi, maka Amalia berniat memperdalam ajaran agama Yahudi. Tapi, setelah mempelajari Yudaisme, Amalia merasa belum menemukan apa yang dicarinya. Ia lalu ikut kursus bahasa Ibrani, itupun tak membantunya untuk menemukan hubungan relijiusitas agama yang dianutnya.
Kemudian, sambil kuliah di bidang psikologi di Universitas Chicago, Amalia mengambil kursus Talmud. Amalia menyebut masa itu sebagai masa yang paling membahagiakannya, karena ia melihat titik terang dari apa yang dicarinya selama ini soal agama Yahudi yang dianut nenek moyangnya. Meski akhirnya, ia menyadari bahwa agama Yahudi ternyata tidak memakai kitab Taurat. Para pemeluk agama Yahudi, kata Amalia, tidak mengikuti perintah Tuhan tapi hanya mengikuti apa kata para rabbinya.
“Semua berdasarkan pada siapa yang menurut Anda benar, sangat ambigu. Agama Yahudi bukan agama sejati, bukan agama kebenaran,” ujar Amalia.
Amalia mulai mengenal agama Islam ketika ia pindah ke California untuk berkumpul bersama keluarganya. Di kota itu, Amalia berkenalan dan berteman dengan orang-orang Arab yang sering berbelanja di toko orangtuanya yang berjualan kacang dan buah-buahan yang dikeringkan di pasar petani San Jose.
“Saya tumbuh sebagai orang Yahudi dan didikan Yahudi membuat saya memandang rendah orang-orang Arab,” kata Amalia.
Meski Amalia memiliki prasangka buruk terhadap orang-orang Arab, Amalia mengakui kebaikan orang-orang Arab yang ia jumpai di toko ayahnya. Ia bahkan berteman akrab dengan mereka. “Satu hal yang menjadi perhatian saya tentang orang-orang ini, mereka selalu bersikap baik satu sama lain dan saya merasakan betapa inginnya saya merasakan seperti mereka, sebagian hati saya ingin memiliki perasaan yang indah itu,” imbuhnya.
Suatu sore, saat Amalia dan teman-teman Arabnya menonton berita di televisi yang membuatnya bertanya-tanya tentang hari kiamat yang tidak pernah ia kenal dalam agama Yahudi. Pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya tentang Islam ketika itu, bagi Amalia adalah cara Tuhan untuk mendekatkan diri pada Islam.
“Allah mendekati manusia dengan cara pendekatan yang manusia butuhkan. Allah mendekati saya dengan cara yang saya butuhkan, dengan menimbulkan rasa keingintahuan saya, rasa lapar terhadap ilmu, rahasia kehidupan, kematian dan makna kehidupan,” ujar Amalia.
Hingga suatu hari, Amalia mengatakan pada teman-teman Arabnya bahwa ia sedang mempertimbangkan ingin menjadi seorang Muslim. Pernyataan Amalia tentu saja mendapat dukungan dari teman-teman Arabnya, tapi tidak dari kedua orangtuanya.
Sampai Amalia benar-benar mengucapkan dua kalimat syahadat, kemudian menikah dengan salah seorang pria Arab dan memiliki seorang puteri bernama Ilana, teman-teman Yahudi dan orangtua Amalia masih belum menerima keislaman Amalia. Kedua orang tua Amalia bahkan memanggil suaminya dengan sebutan rasis “Si Arab”. Ibu Amalia sampai akhir hayatnya bahkan tidak mau berkomunikasi lagi dengan puterinya.
“Saya tidak suka Muslim, mereka komunitas kelas bawah. Mereka melempari orang-orang Israel dengan batu, membunuh orang-orang Yahudi, saya tidak percaya pada mereka. Ibu Amalia memandang suami Amalia yang Arab adalah musuh. Ibu Amalia sangat zionistis dan sangat membenci Islam,” tukas Abraham, ayah Amalia.
Itulah masa-masa terberat Amalia setelah menjadi seorang mualaf, tapi ia tidak pernah menceritakan kesulitannya pada suaminya. Seorang teman dekat Amalia, Emma Baron mengatakan bahwa sahabatnya itu pandai menyembunyikan perasaannya dan kesedihannya, termasuk ketika Amalia berpisah dengan suaminya.
Harapan kembali tumbuh di hati Amalia saat ia bertemu dengan seorang Muslim asal Pakistan bernama Habib. Pernikahannya dengan Habib hanya membawa sedikit perubahan bagi hubungan Amalia dengan keluarganya. Hubungan mereka mulai membaik tapi ayah dan kedua saudara lelaki Amalia tetap memandang Muslim bukanglah orang yang beragama, pengkhianat, anti-Yahudi dan anti-Israel.
“Saya sudah berusaha bersikap baik pada mereka, tapi saya gagal. Mereka mungkin lebih senang melihat saya jadi biarawati ketimbang menjadi seorang Muslim,” keluh Amalia.
Tapi hati Amalia sedikit terhibur, karena ibu tirinya Annete bisa menerimanya. Annete sendiri awalnya seorang Kristiani yang kemudian pindah ke agama Yahudi saat menikah dengan ayahnya, sepeninggal ibu kandungnya. Annete memuji Amalia sebagai orang bersikap dewasa dan teguh pada keyakinannya meski kerap mendengar komentar-komentar pedas dari ayahnya.
Amalia yang kini berusia 43 tahun mengakui mengalami pasang surut dalam kehidupannya sebagai seorang mualaf. Tapi ia mengakui menemui ketenangan jiwa dalam Islam. “Saya sudah menemukan kebenaran itu,” tandas Amalia yang sekarang hidup bahagia dengan suaminya Habib dan empat anak-anaknya. (eramuslim.com)

Friday, July 8, 2011

Aria Desti Kristiana : Kenapa Tuhan Harus Disalib?

”Tuhan itu siapa dan seperti apa sih , Ma? Tuhan kita siapa? Apa bedanya Tuhan dengan Allah?” Pertanyaan kritis itu meluncur begitu saja dari mulut seorang bocah berusia enam tahun, Aria Desti Kristiana. Semua pertanyaan bocah perempuan ini hanya dijawab dengan satu kalimat, ”Tuhan itu yang kita sembah,” ujar sang bunda seraya menunjuk kepada sesosok patung laki-laki di kayu salib yang berada di altar gereja.
Tentu saja, jawaban mamanya itu membuat gadis cilik ini tak puas. Bukannya berhenti dengan jawaban itu, malah sebaliknya ia semakin berusaha mencari jawaban yang bisa mengantarkannya pada kebenaran hakikat Tuhan sebagai pencipta.
Bahkan, semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya. ”Katanya Tuhan itu yang menciptakan kita. Lalu, bagaimana sebuah patung yang tidak bisa bergerak dan disalib bisa menciptakan semua yang ada di dunia ini,” ujar Desti sapaan akrabnya yang kini berusia 18 tahun saat ditemui akhir pekan lalu di Jakarta.
Pertanyaan lainnya yang kerap muncul dalam benaknya adalah ”Mengapa Tuhan yang mesti disembah harus disalib? Kenapa Tuhan harus dirupakan dalam sebuah patung? Bukankah patung itu tidak memberi manfaat?” Pertanyaan ini tak kunjung mendapat jawaban yang memuaskan dirinya.
Meski dilahirkan dan dibesarkan di tengah lingkungan keluarga pemeluk Kristiani yang taat, untuk urusan pendidikan, kedua orang tua Desti tak pernah mengarahkan gadis kelahiran Jakarta, 9 Desember 1991 ini ke sekolah khusus pemeluk Kristen. Oleh kedua orang tuanya, Desti justru disekolahkan di taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) umum.
Ketika bersekolah inilah untuk pertama kalinya Desti bersentuhan dengan agama Islam. ”Karena aku bersekolah di sekolah umum, jadi pendidikan agama yang diperoleh justru pelajaran agama Islam. Itu aku dapatkan pada saat di TK dan SD,” paparnya.
Saat duduk di bangku TK, kata dia, oleh gurunya ia sudah dibiasakan untuk mengucapkan kata Bismillah sebelum makan. Begitu juga, dalam menyebut nama Tuhan dengan sebutan Allah SWT. Dari sini, mulai muncul kebingungan dalam dirinya mengenai konsep ajaran agama dan ketuhanan yang ia anut selama ini. ”Saat itu, aku bingung kenapa beda sekali antara ajaran agama saya (dulu) dengan yang diajarkan oleh guru di TK,” ungkapnya.
Menurut Desti, kedua orang tuanya menganut agama Kristen, namun berasal dari beberapa aliran. Ada yang Pantekosta, Kharismatik (ibu), Katholik (nenek), dan Protestan (bapak). Perbedaan ini semakin membuatnya bingung. Apalagi, ketika ia mendapatkan pendidikan agama Islam di TK dan SD, yang hanya fokus menyebut Tuhan dengan sebutan Allah SWT.
Karena itu, ia makin tertarik dengan ajaran agama yang diajarkan oleh guru di sekolahnya. Ketika duduk di bangku SD, ia mulai mempelajari lebih jauh mengenai ajaran Islam. Tidak hanya di sekolah, keinginan untuk mempelajari ajaran Islam juga ia lakukan dengan cara mengikuti pengajian di daerah tempat tinggalnya.
Berikrar syahadat
Suatu ketika, salah seorang guru mengajinya bertanya kepada Desti, apa benar ia ingin ikut mengaji. Pertanyaan tersebut dijawabnya dengan satu kata, ”Ya.” Kemudian, oleh sang guru, Desti dan teman-temannya diminta untuk melafalkan dua kalimat syahadat. Peristiwa tersebut terjadi saat ia baru menginjak bangku kelas satu SD. Dan, sejak saat itulah anak pertama dari dua bersaudara ini berkomitmen untuk meninggalkan semua ajaran agama lamanya, Kristen Pantekosta, untuk kemudian menjalankan ajaran Islam.
”Memang prosesnya tidak seperti orang Kristen lainnya yang masuk Islam. Karena, bisa dibilang baca kalimat syahadatnya tidak secara resmi,” ungkapnya. Dari situ, kemudian ia mulai belajar mengenai cara shalat dengan mengikuti gerakan teman-temannya. Tidak hanya shalat, ia juga mulai belajar untuk berpuasa ketika sudah duduk di bangku kelas 3 SD.
Kendati sudah memeluk Islam, setiap akhir pekan, Desti tetap datang ke gereja dan mengikuti kegiatan sekolah minggu. Hal tersebut, kata dia, karena adanya paksaan dari kedua orang tuanya. Tidak hanya memaksa dia untuk ikut kebaktian di gereja, tetapi kedua orang tuanya juga kerap memarahi serta melarang dirinya untuk melaksanakan shalat dan pergi mengaji ke masjid. Sikap kedua orang tuanya ini hanya bisa ia tanggapi dengan cara menangis.
”Tetapi, untuk urusan puasa, alhamdulillah mereka mau ngebangunin aku untuk sahur. Dan, kebetulan nenekku yang beragama Kristen Katolik kadang menjalankan puasa setiap Senin dan Kamis,” tambah Desti.Baru ketika ia naik ke jenjang kelas 5 SD, kedua orang tuanya mulai bisa menerima keislamannya. Kedua orang tuanya tidak pernah lagi memaksanya untuk pergi ke gereja setiap akhir pekan serta tidak lagi melarang dirinya untuk melaksanakan shalat dan mengaji.
Meski demikian, pertentangan masih kerap mewarnai hubungan Desti dengan kedua orang tuanya. Pertentangan tersebut, menurutnya, muncul manakala dirinya melakukan suatu kesalahan.”Misalnya, kalau saya berbuat kesalahan, mereka selalu menyinggung-nyinggung soal agama Islam. Karena saya tipe orang yang tidak mau menerima begitu saja dan watak yang keras, saya katakan ke mereka apa bedanya pada saat saya ketika masih memeluk agama yang lama,” sindirnya.
Tak hanya dari orang tuanya, menurut Desti, pertentangan serupa juga kerap ia dapatkan dari pihak keluarganya yang lain, seperti nenek, paman, bibi, dan saudara sepupunya. Kendati demikian, ia tetap menjaga hubungan kekeluargaan dengan sanak saudaranya ini. ”Pada saat Natal, aku tetap ikut ngumpul . Tapi, tidak ikut mengucapkan.”
Namun, ia bersyukur karena masih memiliki seorang adik perempuan, Friday Veronica Florencia, yang bersama-sama dengannya memutuskan untuk memeluk agama Islam di usia kanak-kanak. Di samping juga, teman-teman sepermainannya yang kebanyakan beragama Islam.
Beasiswa gereja
Keinginan orang tuanya untuk mengembalikannya ke agama yang lama, masih terus dilakukan hingga Desti memasuki jenjang SMA. Pada saat ia memutuskan untuk mengenakan jilbab ketika duduk di bangku kelas satu SMA, sang bunda meresponsnya dengan mengatakan bahwa jilbab itu tidak penting dan diwajibkan.
Begitu juga, ketika selepas lulus SMA, ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Saat mau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, ia ditawari beasiswa dari gereja oleh kedua orang tuanya. Tawaran beasiswa tersebut kemudian ia tolak. ”Beasiswanya ini bukan hanya untuk jenjang S1, tetapi sampai ke jenjang apa pun yang saya mau. Namun, dengan syarat saya harus mau mengabdi di gereja itu,” ungkapnya.
Untuk memperkokoh keimanan dan memperdalam pengetahuannya tentang Islam, Desti aktif dalam kegiatan Rohis (Rohani Islam–Red) yang ada di lingkungan tempat ia bersekolah. ”Alhamdulillah semua rintangan tersebut bisa dilalui dengan baik,” ujar mahasiswi semester dua Jurusan Bahasa dan Sastra Arab ini.
Kini, di usianya yang ke-18, Desti merasa menjadi orang yang paling beruntung. Walaupun dijuluki sebagai anak ‘hilang’ oleh keluarga, Desti merasakan kebahagiaan yang tiada tara karena Allah SWT sudah memberikan hidayah kepadanya hingga hari ini untuk menjalankan semua itu.
Meski mengakui kadang kala masih suka lalai dalam melaksanakan kewajiban shalat lima waktu, ia berharap ke depannya bisa menjalankan semua perintah Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Ia juga berharap kelak hidayah yang ia dan sang adik peroleh juga akan didapatkan oleh kedua orang tuanya.”Saya ingin sekali mereka bisa melihat mana jalan yang benar dan mana yang salah. Karena menurut saya, saat ini mereka bukan berada di jalan yang benar,” ujarnya. dia (RioL)
Biodata Nama : Aria Desti Kristiana
TTL : Jakarta, 9 Desember 1991
Masuk Islam : Sejak Kelas 1 SD (Tahun 1997)
Aktivitas :
- Kuliah pada Jurusan Bahasa & Sastra Arab di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) semester II
- Aktif dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jurusan (republika.co.id)