Dia menemukan Islam hanya karana melihat seorang teman Muslim-nya, yang berpakaian sopan dan benar-benar punya sopan-santun
Oleh Syamsi Ali *
Siang kemarin kelas di Islamic Forum for non Muslims masih agak sepi. Selain memang karena memang banyak yang lagi liburan akhir tahun, juga karena beberapa kegiatan Islam lainnya di kota New York, sehingga ada beberapa murid berhalangan hadir. Tapi Margaret, seorang Ibu muda warga Amerika, dan anaknya Nyssa, berumur 11 tahun telah tiba lengkap dengan buku catatannya.
Ibu dan anak ini memang telah mengikuti kelas the Islamic Forum sejak enam minggu berturu-turut. Terus terang, saya tidak pernah bertanya ke mereka, apakah Muslim atau tidak, sebab sejak pertama ke kelas mereka menampilkan sikap ramah, bersahabat dan seolah telah mengetahui banyak tentang agama ini. Jadi, sangkaan saya selama ini adalah bahwa Ibu ini mengantarkan anaknya belajar dasar-dasar agama.
Saya masih ingat sekitar tiga minggu sebelumnya, ketika Nyssa sambil tersenyum malu menanyakan, "When should I start pray?" Saya ketika itu sambil becanda menjawab "You should have asked this before!".
Nyssa adalah sosok anak pendiam tapi murah senyum. Dia terkadang sibuk memperbaiki kerudung di kepalanya jika molor dan nampka rambutnya dari arah depan. "But I mean, when I have to do it", tanyanya lagi.
Setelah itu saya baru mengerti bahwa barangkali Nyssa menanyakan kapan awal seorang Muslim dianggap harus melakukan kewajiban-kewajiban agamanya? Maka saya pun jelaskan bahwa semua Muslim jika telah mencapai umur baligh (puber) di pundaknya terhinggap seluruh kewajiban-kewajiban agama. Perintah sudah harus dilaksanakan, larangan sudah harus ditinggalkan.
Ibunya yang menimpali kemudian. "How should you know that a person has reached the age of puberty?".
Saya kemudian menjelaskan bahwa ada perbedaan indikasi pada pria dan wanita. Pada pria biasanya ditandai dengan apa yang lazim disebut "wet dream" (mimpi basah), sementara pada wanita ketika mengalami haid pertamanya.
Nyssa nampak serius mendengarkan setiap kata dari penjelasan itu, bahkan mencatat setiap poin penting dari diskusi di kelas. Walau demikian, Nyssa nampak sangat pendiam, tapi ibunya sedikit terbuka dan banyak bertanya. "I don't know, why she is so quite here, but at home she talks too much", kata ibunya suatu hari. Nyssa, sebagaimana biasanya hanya tersenyum ringan.
Sambil menunggu shalat Zuhur Sabtu lalu, Nyssa dan ibunya (margaret), duduk di kelas dan nampak membuyka-buka buku catatannya. Saya yang kebetulan baru saja menikahkan seorang pasangan Pakistan dan gadis Amerika dari Ohio, lalu gabung di kelas sekedar untuk salam. "I want to tell you some thing" Ibu Margaret memulai. "What's that?", tanyaku singkat. Sambil melihat anaknya di sampingnya, dengan mata berkaca-kaca dia mengatakan "I want to convert today" (saya ingi masuk Islam).
Hampir tidak percaya karena saya kira selama ini, Ibu dan anak ini adalah Muslim. Saya kemudian bertanya: "Wait, are you non Muslims?. Ibu Margaret tertawa terbahak melihat anaknya, kemudian balik bertanya "Why? Do you think we are Muslims?". "Yes", jawabku.
Saya kemudian bertanya sejak kapan dia mulai belajar Islam dan bagaimana latar belakang mereka sehingg datang ke kelas the Islamic Forum itu. Margaret bercerita panjang, yang intinya sejak hampir setahun ini memang dia belajar serius Islam. Dan itu dia lakukan sejak bercerai dengan suaminya yang, menurutnya, peminum dan penjudi. Dia kemudian mencari ketenangan, terkadang dengan mimum-minum, atau bahkan menurutnya, hampir terjatuh ke jurang pemakai obat-bat terlarang. Hingga suatu ketika dia bertemu dengan seorang teman di kantornya, yang menurutnya, seorang warga Hispanic. Namun menurut Ibu Margaret, dia ini beda dengan warga Hispanic lainnya.
"She dressed differently, and completely behave so humbly and respectful". (Dia berpakaian sopan, dan betul-betul bertingkah laku sangat hormat dan rendah hati)
Dia inilah yang kemudian mengenalkan Islam sejak sekitar setahun lalu. Sejak itu, dia sudah hampir tidak pernah minum dan bahkan lebih serius belajar islam. Bahkan tidak saja dirinya, tapi juga mengajak serta anaknya yang ketika itu baru berumur 10-an tahun.
Sekitar tiga minggu lalu Margaret kebetulan mengambil cuti menjelang Thanksgiving dan menyempatkan diri mencari masjid atau Islamic Center. Di sinilah dia memulai datang ke mesjid dan menanyakan pada orang-orang di mesjid itu jiak dia ingin belajar Islam. Diapun diarahkan untuk datang hari Sabtu dan bergabung dengan kelas the Islamic Forum for non Muslims.
Hampir 30 menit Margaret berbincang-bincang dengan saya mengenai latar belakang dia mengenal Islam. Akhrinya tanpa ada waktu lagi menjelaskan hal-hal yang biasanya saya jelaskan kepada seseorang yang mau masuk Islam, saya minta Margaret untuk segera mengambil wudhu. Rupanya dia sudah melakukannya bersama putrinya.
Maka, Margaret dan Nyssa saya ajak menuju ruang shalat. Di hadapan sekitar 200-an jama'ah Margaret dengan khusyuk saya tuntun bersama putrinya mengikrarkan "Laa ilaaha illa Allah-Muhammad Rasul Allah", diringi pekik takbir para jama'ah.
Saya kemudian meminta kepada jama'ah wanita untuk memberikan selamat, diikuti dengan shalat dzuhur berjama'ah.
Setelah shalat Nyssa dan ibunya masuk kembali ke kelas. Saya baru bertanya perihal nama Nyssa yang kedengaranmnya islami. Margaret mengatakan bahwa mantan suaminya adalah orang Greek (Yunani), dan Nyssa berarti yang pertama. Saya katakan, saya ingin nama Nyssa ditambah A di depan. Maka, sejak Sabtu lalu, Nyssa resmi menjadi Anyssa (Anisah).
Kebetulan Minggu kemarin adalah pengajian bulanan di masjid Al-Hikmah. Saya mengajak Margaret ke masjid Al-hikmah untuk mendapatkan pengalaman bersama Muslim dari Indonesia, tapi juga ingin memberikan hadiah kerudung kepada Nyssa. Nyssa selama ini serius dengan kerudungnya yang kebetulan hanya sepotong kain biasa. Terpikir kerudung buatan Indonesia, selain lebih cantik, juga sudah siap dipakai secara permanen.
Rupanya Margaret sudah ada janjian dengan teman Hispanic itu, dan akhirnya menunda kunjunganna ke masjid Al-Hikmah.
Margaret, Nyssa, selamat dan semoga selalu dijaga di jalan Allah SWT. Doa kami menyertai! [www.hidayatullah.com ]
Kisah nyata tentang bagaimana mereka mendapat hidayah dari Allah untuk menerima Islam. Mereka masuk Islam tanpa paksaan dan yakin bahwa agama Islam merupakan agama yang benar.
Tuesday, August 2, 2011
Easa Ashby, Masuk Islam Usia 13 Tahun
Menjadi muslim di usia muda bukan masalah.Itulah trend baru geliat Islam di kota metropolitan London, Inggris
Ada fenomena baru di Inggris saat ini di mana pemeluk Islam dari kalangan muda meningkat secara signifikan setiap tahunnya. Usia muallaf baru itu bahkan bisa dibilang sangat belia. Easa Ashby salah satunya. Remaja asal kota London itu memeluk Islam di usianya yang ke-13. Dia tertarik Islam melalui “dakwah” salah seorang anak tantenya. Sepupunya itu, yang masuk Islam pada usia 15 tahun, satu hari mengajak Easa ke rumahnya. Di rumah sepupunya itu Easa diperlihatkan kitab suci Alquran. Berawal dari sana pula dia mulai tertarik belajar Islam. Rasa ingin tahunya tentang Islam membuncah hingga uang jajannya habis untuk beli buku-buku Islam.
Kenal Islam Melalui Sepupu
Easa saat memeluk Islam baru berumur 13 tahun. Sebelum masuk Islam, saat masih berusia 10 tahun dia seperti bocah-bocah lainnya, melewati kehidupan normal, pergi sekolah, bercengkrama dengan teman-temannya. Ya seperti umumnya anak-anak di sekolah dasar.
Kala di sekolah menengah pertama, salah satu saudara sepupunya yang perempuan berumur kira-kira 15 tahun diketahuinya telah memeluk Islam. Sepupunya itu tiap berkunjung ke rumah saudara-saudaranya yang lain selalu menceritakan kepada sanak keluarganya tentang Islam. Anggota keluarga semua ikut mendengar dan tentu saling beda pendapat satu sama lain. Lalu muncul adu argumentasi dan debat. Menariknya si saudaranya yang baru muallaf itu tidak membantah. Dia lebih banyak diam dan hanya mendengar saja. Tidak mau berdebat secara frontal.
“Satu ketika, kala aku sendirian di rumah, sepupuku itu mengajakku ke rumahnya yang jaraknya cuma 15 menit jalan kaki. Ya itu rumahnya bibi Easa,” kisah Easa. Sesampai di rumahnya, si sepupunya itu menunjukkan pada Easa kitab suci Alquran seraya bertanya apa dia tahu buku apa itu. Spontan Easa menjawab tidak tahu.”
“Serta merta dia menjelaskan persis seperti orang Kristen menjelaskan apa itu Bibel. Aku baru tahu rupanya itu kitab suci umat Islam,” lanjutnya. Kepada sepupunya, Easa menyebut tidak tahu apapun tentang Islam. Agama yang dia tahu cuma Kristen yang sering dia dengar dari ibunya. Ketika itu sepupunya menerangkan tentang Allah SWT dan Nabi Muhammad zang merupakan utusan-Nya. Dan Al-Quran itu diturunkan oleh Allah melalui perantaraan Nabi Muhammad.
Terkesan dengan Al-Quran
Begitulah, Easa menemukan apa yang dia sebut sebagai keajaiban ilmiah di dalam Alquran hingga menggiringnya memeluk Islam. Hari-hari berikutnya dia suka mendengar kisah-kisah para muallaf lain, terutama pengalaman spiritual mereka kala memeluk Islam. Bagi Easa sendiri dia sagat terkesan dengan fakta dan gambaran kehidupan yang diceritakan dalam Alquran, yang nyata serta rasional.
“Misalnya, keterangan yang begitu jelas tentang proses kejadian manusia di dalam rahim seorang ibu. Lalu tentang kejadian jagat raya, bintang-bintang, laut dan aneka keterangan ilmiah lainnya. Menurut aku, ilmu pengetahuan yang ada hari ini seharusnya berterima kasih atas fakta-fakta ini,” kata dia.
Tentang shalat lima kali sehari, mengikuti anjuran makan makanan halal, dan busana muslim yang menutup aurat, bagi Easa hal itu tidak masalah. Bukan sebuah perkara yang sulit, kata dia. Sepupunya juga menjelaskan hal-hal mendasar dalam Islam. Easa lalu mempelajari dua hal yakni shalat dan satunya tentang etika berbusana menurut Islam. Dia akhirnya memilih untuk fokus pada masalah shalat. Buku-buku tentang tatacara shalat pun dicari lalu dipelajarinya.
Awalnya, dia tidak menceritakan kepada siapapun tentang hal ini. Sebab seperti diakuinya, dia belum begitu siap jika ada komentar atau kritikan. Dia mengaku sangat belia sekali, belum siap secara mental. Easa bahkan punya obsesi untuk pergi ke Mesir dan Yaman supaya bisa mempelajari Islam lebih mantap. Tapi keinginan itu disimpannya dulu dalam-dalam. Takut nanti bermasalah. Sebab, selain sepupunya itu, dia tak punya kenalan lain yang beragama Islam.
Uang jajan untuk beli buku Islam
Rasa ingin tahunya tentang Islam makin membuncah. Hingga uang jajan habis untuk beli buku di sebuah toko buku Islam di kotanya. Buku yang dia beli berisi penjelasan shalat, puasa, buku-buku tauhid, kehidupan Rasulullah dan kisah para sahabatnya.
Setelah tiga atau empat bulan belajar secara otodidak, dia mengunjungi pengajian yang sering diadakan di kediaman Syeikh Abdur Rahman di selatan kota London . Pengajian yang berlangsung di ruang tamu sang ustaz itu sangat menarik. Para pengunjung, yang umumnya adalah para muallaf, terlihat sangat menikmati ceramah Syekh Rahman. Easa mengaku sangat terinspirasi dengan pengajian tersebut. Dia mendapat banyak sekali masukan hal-hal mendasar dalam Islam.
Dia berusia 15 tahun pada saat mulai belajar tentang Islam secara terbuka dan intensif. Pada saat bersamaan Easa punya teman yang juga baru masuk Islam dan karena itu mereka saling mengisi satu sama lainnya. Bahkan kala ke mesjid pun mereka sering berdua. Hanya saja kala di sekolah mereka kerap mendapat kesulitan untuk ke mesjid untuk shalat Jumat, karena bertubrukan dengan jam sekolah.
Meskipun dia baru kenal Islam di usia yang sangat belia, namun dia tidak melihat Islam sebagai agama yang keras atau penghalang aktifitasnya. Justru dia merasa Islam sangat menarik. Dari situ dia tahu kenapa alkohol itu haram. Masuk akal, menurut Easa, Islam melarang alkohol. Sebab hampir semua perbuatan buruk berawal dari sana .
Tetap berinteraksi dengan non muslim
Di rumah Syeikh Rahman Easa banyak mendapat informasi misalnya hal apa yang dibolehkan dan diharamkan. Begitupun dia terkesan dengan Islam yang tak pernah membeda-bedakan golongan atau kelompok. Jadi dia masih tetap bisa berinteraksi dengan rekan-rekannya yang non muslim. Namun jika rekan-rekannya itu mengajaknya ke tempat yang dilarang Islam, misal ke pub atau ke bar untuk minum-minum, dia serta-merta menolaknya.
“Aku tidak mengisolasikan diri dengan teman-teman yang non-muslim. Begitupun aku tetap berpijak pada Islam jika ada yang tak berkenan dalam pertemanan kami. Misalnya, aku tak mau lagi terlibat dalam suasana ghibah (membicarakan keburukan orang lain).
“Informasi tentang kebenaran Islam tak cukup dari mendengar saja. Tapi kita harus berusaha terus mencari dan mencari. Tidak boleh malas. Dan, jalan terbaik untuk mendapatkan pengetahuan Islam adalah melalui Alquran dan hadist, terutama hadist Bukhari dan Muslim,” anjur Easa terutama bagi para muallaf baru. Dia juga menganjurkan untuk mempelajari kehidupan para sahabat Rasulullah. Karena merekalah yang melihat langsung cara hidup Rasul dan mempraktekkannya dalam kehidupan harian. Para sahabat menerima Islam langsung dari tangan pertama, yakni Rasulullah.
“Saat ini ada jarak yang sangat jauh sekali. Kita telah banyak meninggalkan sunnah-sunnah Nabi. Sehingga muncul berbagai amalan tanpa mengaju kepada ajaran dasar Islam. Muncul pula konflik dalam tubuh umat Islam akibat melakukan sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup. Kini krisis ummat harus diselesaikan dengan kembali ke ajaran yang sebenarnya. Jangan lagi terkotak-kotak. Sunnah Rasul adalah cara hidup terbaik,” pesan remaja belia itu lagi.
Krisis Identitas Islam
Easa mengamati sebagain besar pemuda Islam seakan kehilangan pegangan. “Mereka telah lepas kontrol dan jadi korban budaya tak beradab. Ironisnya mereka mengikuti cara hidup orang lain dan meinggalkan cara hidup Islam. Easa sendiri mengaku sangat beruntung bisa mendapatkan jalan hidup Islam di saat masih sangat belia, di usia 13 tahun. Sehingga semua yang dipelajarinya mudah terserap dan berkesan dalam hati. Rasa ingin tahunya yang besar membuat Easa selalu menghadiri setiap pengajian yang diadakan di rumah Syekh Rahman. Bahkan dia punya cita-cita untuk bisa jadi penghafal (hafiz) Alquran satu saat nanti.
Menjadi muslim di usia sangat muda bukannya tanpa masalah. Apalagi di kota London yang serba metroplit. “Masalah yang sangat kentara adalah di kala melamar pekerjaan. Walau dikatakan tak ada perbedaan dari segi agama atau kelompok, tapi kenyataannya ketika seorang muslim melamar sebuah pekerjaan maka ada banyak kesulitan yang bakal dihadapi. Akhirnya, tentu saja muncul rasa putus asa,” kata Easa.
“Lain halnya jika yang melamar non muslim. Mereka sangat gampang mendapatkannya. Sebab agamanya sama dengan yang menawarkan pekerjaan. Ini kenyataan lapangan yang tak bisa dibohongi. Jadi rasisme itu masih dan terkadang sangat kentara. Mungkin ini yang masih harus terus diperjuangkan oleh umat Islam disini,” imbuh dia lagi.Terhadap masalah itu Eesa menganjurkan pada muallaf baru untuk menahan diri dan sabar.
“Yang paling penting, jangan mudah marah hanya gara-gara hal itu. Apalagi sampai mebuat kerusuhan. Ini tidak baik bagi umat Islam sendiri. Sabar, jangan cepat marah dan jangan frustasi,” saran Easa bijak. Dia, secara khusus, menyarankan agar pimpinan komunitas Islam di Inggris untuk bersatu padu. Sekarang ini, menurut dia, tema-tema tentang menjadikan Inggris sebagai negara Islam sudah tak pada tempatnya lagi. Yang ada hanya perpecahan dan muncul bahaya yang lebih parah dimana Islam bakal tak mendapat tempat lagi.
“Sekarang bukan masanya lagi bicara tentang hal itu (negara Islam-red). Konon lagi di Barat. Jika semua sudah melaksanakan Islam secara sempurna itu akan datang dengan sendirinya. Mari belajar dan jalankan Islam secara benar. Tak ada yang baru dalam Islam karena Islam sudah sangat sempurna. Masalah yang muncul hari ini justru karena ketelodoran umat Islam sendiri, karena salah paham dan salah dalam pengamalannya,” tukas Easa panjang lebar. [www.hidayatullah.com]
Ada fenomena baru di Inggris saat ini di mana pemeluk Islam dari kalangan muda meningkat secara signifikan setiap tahunnya. Usia muallaf baru itu bahkan bisa dibilang sangat belia. Easa Ashby salah satunya. Remaja asal kota London itu memeluk Islam di usianya yang ke-13. Dia tertarik Islam melalui “dakwah” salah seorang anak tantenya. Sepupunya itu, yang masuk Islam pada usia 15 tahun, satu hari mengajak Easa ke rumahnya. Di rumah sepupunya itu Easa diperlihatkan kitab suci Alquran. Berawal dari sana pula dia mulai tertarik belajar Islam. Rasa ingin tahunya tentang Islam membuncah hingga uang jajannya habis untuk beli buku-buku Islam.
Kenal Islam Melalui Sepupu
Easa saat memeluk Islam baru berumur 13 tahun. Sebelum masuk Islam, saat masih berusia 10 tahun dia seperti bocah-bocah lainnya, melewati kehidupan normal, pergi sekolah, bercengkrama dengan teman-temannya. Ya seperti umumnya anak-anak di sekolah dasar.
Kala di sekolah menengah pertama, salah satu saudara sepupunya yang perempuan berumur kira-kira 15 tahun diketahuinya telah memeluk Islam. Sepupunya itu tiap berkunjung ke rumah saudara-saudaranya yang lain selalu menceritakan kepada sanak keluarganya tentang Islam. Anggota keluarga semua ikut mendengar dan tentu saling beda pendapat satu sama lain. Lalu muncul adu argumentasi dan debat. Menariknya si saudaranya yang baru muallaf itu tidak membantah. Dia lebih banyak diam dan hanya mendengar saja. Tidak mau berdebat secara frontal.
“Satu ketika, kala aku sendirian di rumah, sepupuku itu mengajakku ke rumahnya yang jaraknya cuma 15 menit jalan kaki. Ya itu rumahnya bibi Easa,” kisah Easa. Sesampai di rumahnya, si sepupunya itu menunjukkan pada Easa kitab suci Alquran seraya bertanya apa dia tahu buku apa itu. Spontan Easa menjawab tidak tahu.”
“Serta merta dia menjelaskan persis seperti orang Kristen menjelaskan apa itu Bibel. Aku baru tahu rupanya itu kitab suci umat Islam,” lanjutnya. Kepada sepupunya, Easa menyebut tidak tahu apapun tentang Islam. Agama yang dia tahu cuma Kristen yang sering dia dengar dari ibunya. Ketika itu sepupunya menerangkan tentang Allah SWT dan Nabi Muhammad zang merupakan utusan-Nya. Dan Al-Quran itu diturunkan oleh Allah melalui perantaraan Nabi Muhammad.
Terkesan dengan Al-Quran
Begitulah, Easa menemukan apa yang dia sebut sebagai keajaiban ilmiah di dalam Alquran hingga menggiringnya memeluk Islam. Hari-hari berikutnya dia suka mendengar kisah-kisah para muallaf lain, terutama pengalaman spiritual mereka kala memeluk Islam. Bagi Easa sendiri dia sagat terkesan dengan fakta dan gambaran kehidupan yang diceritakan dalam Alquran, yang nyata serta rasional.
“Misalnya, keterangan yang begitu jelas tentang proses kejadian manusia di dalam rahim seorang ibu. Lalu tentang kejadian jagat raya, bintang-bintang, laut dan aneka keterangan ilmiah lainnya. Menurut aku, ilmu pengetahuan yang ada hari ini seharusnya berterima kasih atas fakta-fakta ini,” kata dia.
Tentang shalat lima kali sehari, mengikuti anjuran makan makanan halal, dan busana muslim yang menutup aurat, bagi Easa hal itu tidak masalah. Bukan sebuah perkara yang sulit, kata dia. Sepupunya juga menjelaskan hal-hal mendasar dalam Islam. Easa lalu mempelajari dua hal yakni shalat dan satunya tentang etika berbusana menurut Islam. Dia akhirnya memilih untuk fokus pada masalah shalat. Buku-buku tentang tatacara shalat pun dicari lalu dipelajarinya.
Awalnya, dia tidak menceritakan kepada siapapun tentang hal ini. Sebab seperti diakuinya, dia belum begitu siap jika ada komentar atau kritikan. Dia mengaku sangat belia sekali, belum siap secara mental. Easa bahkan punya obsesi untuk pergi ke Mesir dan Yaman supaya bisa mempelajari Islam lebih mantap. Tapi keinginan itu disimpannya dulu dalam-dalam. Takut nanti bermasalah. Sebab, selain sepupunya itu, dia tak punya kenalan lain yang beragama Islam.
Uang jajan untuk beli buku Islam
Rasa ingin tahunya tentang Islam makin membuncah. Hingga uang jajan habis untuk beli buku di sebuah toko buku Islam di kotanya. Buku yang dia beli berisi penjelasan shalat, puasa, buku-buku tauhid, kehidupan Rasulullah dan kisah para sahabatnya.
Setelah tiga atau empat bulan belajar secara otodidak, dia mengunjungi pengajian yang sering diadakan di kediaman Syeikh Abdur Rahman di selatan kota London . Pengajian yang berlangsung di ruang tamu sang ustaz itu sangat menarik. Para pengunjung, yang umumnya adalah para muallaf, terlihat sangat menikmati ceramah Syekh Rahman. Easa mengaku sangat terinspirasi dengan pengajian tersebut. Dia mendapat banyak sekali masukan hal-hal mendasar dalam Islam.
Dia berusia 15 tahun pada saat mulai belajar tentang Islam secara terbuka dan intensif. Pada saat bersamaan Easa punya teman yang juga baru masuk Islam dan karena itu mereka saling mengisi satu sama lainnya. Bahkan kala ke mesjid pun mereka sering berdua. Hanya saja kala di sekolah mereka kerap mendapat kesulitan untuk ke mesjid untuk shalat Jumat, karena bertubrukan dengan jam sekolah.
Meskipun dia baru kenal Islam di usia yang sangat belia, namun dia tidak melihat Islam sebagai agama yang keras atau penghalang aktifitasnya. Justru dia merasa Islam sangat menarik. Dari situ dia tahu kenapa alkohol itu haram. Masuk akal, menurut Easa, Islam melarang alkohol. Sebab hampir semua perbuatan buruk berawal dari sana .
Tetap berinteraksi dengan non muslim
Di rumah Syeikh Rahman Easa banyak mendapat informasi misalnya hal apa yang dibolehkan dan diharamkan. Begitupun dia terkesan dengan Islam yang tak pernah membeda-bedakan golongan atau kelompok. Jadi dia masih tetap bisa berinteraksi dengan rekan-rekannya yang non muslim. Namun jika rekan-rekannya itu mengajaknya ke tempat yang dilarang Islam, misal ke pub atau ke bar untuk minum-minum, dia serta-merta menolaknya.
“Aku tidak mengisolasikan diri dengan teman-teman yang non-muslim. Begitupun aku tetap berpijak pada Islam jika ada yang tak berkenan dalam pertemanan kami. Misalnya, aku tak mau lagi terlibat dalam suasana ghibah (membicarakan keburukan orang lain).
“Informasi tentang kebenaran Islam tak cukup dari mendengar saja. Tapi kita harus berusaha terus mencari dan mencari. Tidak boleh malas. Dan, jalan terbaik untuk mendapatkan pengetahuan Islam adalah melalui Alquran dan hadist, terutama hadist Bukhari dan Muslim,” anjur Easa terutama bagi para muallaf baru. Dia juga menganjurkan untuk mempelajari kehidupan para sahabat Rasulullah. Karena merekalah yang melihat langsung cara hidup Rasul dan mempraktekkannya dalam kehidupan harian. Para sahabat menerima Islam langsung dari tangan pertama, yakni Rasulullah.
“Saat ini ada jarak yang sangat jauh sekali. Kita telah banyak meninggalkan sunnah-sunnah Nabi. Sehingga muncul berbagai amalan tanpa mengaju kepada ajaran dasar Islam. Muncul pula konflik dalam tubuh umat Islam akibat melakukan sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup. Kini krisis ummat harus diselesaikan dengan kembali ke ajaran yang sebenarnya. Jangan lagi terkotak-kotak. Sunnah Rasul adalah cara hidup terbaik,” pesan remaja belia itu lagi.
Krisis Identitas Islam
Easa mengamati sebagain besar pemuda Islam seakan kehilangan pegangan. “Mereka telah lepas kontrol dan jadi korban budaya tak beradab. Ironisnya mereka mengikuti cara hidup orang lain dan meinggalkan cara hidup Islam. Easa sendiri mengaku sangat beruntung bisa mendapatkan jalan hidup Islam di saat masih sangat belia, di usia 13 tahun. Sehingga semua yang dipelajarinya mudah terserap dan berkesan dalam hati. Rasa ingin tahunya yang besar membuat Easa selalu menghadiri setiap pengajian yang diadakan di rumah Syekh Rahman. Bahkan dia punya cita-cita untuk bisa jadi penghafal (hafiz) Alquran satu saat nanti.
Menjadi muslim di usia sangat muda bukannya tanpa masalah. Apalagi di kota London yang serba metroplit. “Masalah yang sangat kentara adalah di kala melamar pekerjaan. Walau dikatakan tak ada perbedaan dari segi agama atau kelompok, tapi kenyataannya ketika seorang muslim melamar sebuah pekerjaan maka ada banyak kesulitan yang bakal dihadapi. Akhirnya, tentu saja muncul rasa putus asa,” kata Easa.
“Lain halnya jika yang melamar non muslim. Mereka sangat gampang mendapatkannya. Sebab agamanya sama dengan yang menawarkan pekerjaan. Ini kenyataan lapangan yang tak bisa dibohongi. Jadi rasisme itu masih dan terkadang sangat kentara. Mungkin ini yang masih harus terus diperjuangkan oleh umat Islam disini,” imbuh dia lagi.Terhadap masalah itu Eesa menganjurkan pada muallaf baru untuk menahan diri dan sabar.
“Yang paling penting, jangan mudah marah hanya gara-gara hal itu. Apalagi sampai mebuat kerusuhan. Ini tidak baik bagi umat Islam sendiri. Sabar, jangan cepat marah dan jangan frustasi,” saran Easa bijak. Dia, secara khusus, menyarankan agar pimpinan komunitas Islam di Inggris untuk bersatu padu. Sekarang ini, menurut dia, tema-tema tentang menjadikan Inggris sebagai negara Islam sudah tak pada tempatnya lagi. Yang ada hanya perpecahan dan muncul bahaya yang lebih parah dimana Islam bakal tak mendapat tempat lagi.
“Sekarang bukan masanya lagi bicara tentang hal itu (negara Islam-red). Konon lagi di Barat. Jika semua sudah melaksanakan Islam secara sempurna itu akan datang dengan sendirinya. Mari belajar dan jalankan Islam secara benar. Tak ada yang baru dalam Islam karena Islam sudah sangat sempurna. Masalah yang muncul hari ini justru karena ketelodoran umat Islam sendiri, karena salah paham dan salah dalam pengamalannya,” tukas Easa panjang lebar. [www.hidayatullah.com]
Mantan Intelijen Rusia ,Masuk Islam Dua Hari Menjelang Kematiannya
ama Alexander Litvinenko mungkin tidak begitu asing terdengar di telinga sebagian masyarakat dunia. Sosoknya memang sempat menghiasi pemberitaan di berbagai media internasional pada paruh kedua tahun 2006 silam, setelah kematiannya terungkap karena dibunuh dengan racun sejenis bahan radio aktif isotop polonium 210.
Sebelum ajal menjemput, ternyata mantan agen mata-mata rahasia badan intelijen Rusia, Federal Security Sevice itu berpesan agar ia dimakamkan dengan cara Islam. Memang, saat itu hanya beberapa orang terdekat Litvinenko yang mengetahui perihal keislamannya.
Sejumlah media massa internasional memberitakan bahwa upacara pemakamannya memang dilakukan secara rahasia yang dihadiri sedikitnya 30 orang kerabat dekat Litvinenko. Upacara pemakamannya sendiri dilangsungkan di kawasan utara Kota London, Inggris. Upacara terpisah untuk menghormatinya yang terakhir kali juga diselenggarakan di Masjid Regent’s Park, London. Ini sesuai dengan keinginannya agar prosesi pemakamannya diselenggarakan sesuai dengan syariat Islam.
Bahkan sang ayah, Walter Litvinenko, dilaporkan ikut menghadiri upacara di Masjid Regent’s Park bersama pentolan pejuang Chechnya, Akhmed Zakayev. Kerabat Litvinenko mengatakan, ayah tiga anak itu sudah menjadi Muslim sebelum meninggal.
Menurut Walter, anak laki-lakinya itu sudah menyatakan diri masuk Islam saat terbaring sekarat di Rumah Sakit London sampai akhirnya meninggal pada 23 November 2006. ”Litvinenko masuk Islam dua hari sebelum ajal menjemput,” kata Walter kepada Radio Free Europe.
Dalam wawancara dengan surat kabar Rusia, Kommersant, yang dikutip Times Online edisi 5 Desember 2006, Walter mengatakan, anaknya yang semula memeluk Kristen Ortodoks menyatakan permintaan terakhirnya sebelum meninggal, yaitu agar ia dimakamkan secara Islam. ”Dia bilang, ingin dikubur dengan cara Islam. Saya bilang, semuanya akan dilakukan seperti yang dia inginkan. Kami sudah memiliki seorang Muslim di keluarga kami. Namun yang paling penting adalah meyakini Yang Maha Besar, Tuhan itu satu,” papar Walter.
Sementara seorang kolega Litvinenko, Ghayasuddin Siddiqui, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Parlemen Muslim Britania Raya, mengungkapkan bahwa Litvinenko telah resmi memeluk Islam beberapa hari sebelum ia diracun. Sedangkan Akhmed Zakayev, yang pernah bertetangga dengan Litvinenko, berkata, ”Sehari sebelum kematiannya, dia (Litvinenko) minta dibacakan Alquran dan mengatakan kepada istrinya dan anggota keluarga lainnya bahwa dia menginginkan agar dimakamkan dalam tradisi Islam.”
Tak diperoleh keterangan alasan Litvinenko memeluk Islam. Namun, dari beberapa situs yang mengungkapkan perjalanan kariernya, tampaknya Litvinenko kecewa pada sikap Pemerintah Rusia yang selalu memerangi kelompok Muslim Chechnya. Karena itu pula, sejumlah situs mengungkapkan, pembunuhan atas Litvinenko terkait dengan sejumlah pernyataannya yang menyinggung kebijakan Pemerintah Rusia saat itu.
Selain itu, ketertarikan Litvinenko pada Islam tampak dengan sikap umat Islam yang damai dan akan bertindak bila mereka terdesak demi mempertahankan diri. Ia melihat, umat Islam senantiasa berjuang untuk perdamaian. Ayahnya, Walter Litvinenko, mengatakan, anaknya itu tumbuh kecewa dengan apa yang disebut hierarki dalam gereja Ortodoks Rusia. Ia sudah berusaha menyampaikan ketidaksimpatikannya atas sikap gereja, namun tak dituruti.[republika.co.id]
Sebelum ajal menjemput, ternyata mantan agen mata-mata rahasia badan intelijen Rusia, Federal Security Sevice itu berpesan agar ia dimakamkan dengan cara Islam. Memang, saat itu hanya beberapa orang terdekat Litvinenko yang mengetahui perihal keislamannya.
Sejumlah media massa internasional memberitakan bahwa upacara pemakamannya memang dilakukan secara rahasia yang dihadiri sedikitnya 30 orang kerabat dekat Litvinenko. Upacara pemakamannya sendiri dilangsungkan di kawasan utara Kota London, Inggris. Upacara terpisah untuk menghormatinya yang terakhir kali juga diselenggarakan di Masjid Regent’s Park, London. Ini sesuai dengan keinginannya agar prosesi pemakamannya diselenggarakan sesuai dengan syariat Islam.
Bahkan sang ayah, Walter Litvinenko, dilaporkan ikut menghadiri upacara di Masjid Regent’s Park bersama pentolan pejuang Chechnya, Akhmed Zakayev. Kerabat Litvinenko mengatakan, ayah tiga anak itu sudah menjadi Muslim sebelum meninggal.
Menurut Walter, anak laki-lakinya itu sudah menyatakan diri masuk Islam saat terbaring sekarat di Rumah Sakit London sampai akhirnya meninggal pada 23 November 2006. ”Litvinenko masuk Islam dua hari sebelum ajal menjemput,” kata Walter kepada Radio Free Europe.
Dalam wawancara dengan surat kabar Rusia, Kommersant, yang dikutip Times Online edisi 5 Desember 2006, Walter mengatakan, anaknya yang semula memeluk Kristen Ortodoks menyatakan permintaan terakhirnya sebelum meninggal, yaitu agar ia dimakamkan secara Islam. ”Dia bilang, ingin dikubur dengan cara Islam. Saya bilang, semuanya akan dilakukan seperti yang dia inginkan. Kami sudah memiliki seorang Muslim di keluarga kami. Namun yang paling penting adalah meyakini Yang Maha Besar, Tuhan itu satu,” papar Walter.
Sementara seorang kolega Litvinenko, Ghayasuddin Siddiqui, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Parlemen Muslim Britania Raya, mengungkapkan bahwa Litvinenko telah resmi memeluk Islam beberapa hari sebelum ia diracun. Sedangkan Akhmed Zakayev, yang pernah bertetangga dengan Litvinenko, berkata, ”Sehari sebelum kematiannya, dia (Litvinenko) minta dibacakan Alquran dan mengatakan kepada istrinya dan anggota keluarga lainnya bahwa dia menginginkan agar dimakamkan dalam tradisi Islam.”
Tak diperoleh keterangan alasan Litvinenko memeluk Islam. Namun, dari beberapa situs yang mengungkapkan perjalanan kariernya, tampaknya Litvinenko kecewa pada sikap Pemerintah Rusia yang selalu memerangi kelompok Muslim Chechnya. Karena itu pula, sejumlah situs mengungkapkan, pembunuhan atas Litvinenko terkait dengan sejumlah pernyataannya yang menyinggung kebijakan Pemerintah Rusia saat itu.
Selain itu, ketertarikan Litvinenko pada Islam tampak dengan sikap umat Islam yang damai dan akan bertindak bila mereka terdesak demi mempertahankan diri. Ia melihat, umat Islam senantiasa berjuang untuk perdamaian. Ayahnya, Walter Litvinenko, mengatakan, anaknya itu tumbuh kecewa dengan apa yang disebut hierarki dalam gereja Ortodoks Rusia. Ia sudah berusaha menyampaikan ketidaksimpatikannya atas sikap gereja, namun tak dituruti.[republika.co.id]
Monday, August 1, 2011
Inilah Perjalanan Rohani Kiper Indonesia,Markus Horison
MARKUS Horison dilahirkan di sebuah daerah bernama Pangkalan Brandan, Sumatra Utara, 14 Maret 1981. Ia terlahir sebagai bungsu dari empat bersaudara pasangan Julius Rihihina dan Yenny Rosmawati. Seperti seluruh anggota keluarganya, sejak dilahirkan Markus merupakan pemeluk agama Kristen.
Pada tahun 2004, ketika berkostum PSMS Medan, Markus mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Ketika itu, penjaga gawang yang mengawali kiprahnya di sepak bola dengan bergabung bersama SSB Brandan Putra ini memutuskan memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Muhammad Haris Maulana.
"Saya masuk Islam tanpa ada paksaan dari siapa pun. Masuk Islam merupakan keinginan saya sendiri," katanya seperti dirilis Republika Online.
Kendati baru masuk Islam ketika usianya menginjak 23 tahun, Markus sebenarnya sudah mengenal Islam sejak bocah. Sebab ibunya yang orang Aceh, terlahir dari keluarga muslim. "Ibu saya awalnya Islam. Sejak menikah, ibu berganti kepercayaan mengikuti kepercayaan ayah," tuturnya.
Diceritakan Markus, sejak kecil ia memang memiliki kedekatan dengan keluarga dari pihak ibu. Tak heran, setiap kali liburan sekolah, Markus sering menghabiskan waktunya di rumah kerabat ibunya di Aceh. Makanya, Markus kecil sudah mengenal peribadatan umat Islam, seperti salat, puasa, dan mengaji. "Waktu kecil, saya suka ikut saudara-saudara ke masjid, ikut salat, dan mengaji. Dari situlah saya mendapatkan gambaran tentang Islam," katanya.
Dalam kesehariannya sebagai pemain sepak bola, Markus juga banyak bergaul dengan para pemain yang kebanyakan beragama Islam. Tak terkecuali rekan-rekannya di PSMS. Menurut Markus, pergaulan dengan para pemain yang kebanyakan beragama Islam itu semakin mengenalkannya terhadap kehidupan seorang muslim.
Sempat Ditentang Keluarga
KENDATI sudah memiliki nama muslim, yaitu Muhammad Haris Maulana, nama Markus Horison tetap digunakan dalam kesehariannya. Pasalnya nama ini kadung populer di pentas sepak bola nasional, jauh sebelum Markus memutuskan masuk Islam pada tahun 2004.
Karena menyangkut agama dan keyakinan, keputusan Markus menjadi mualaf mendapatkan rintangan. Orang pertama yang menentang keputusan kiper berkepala plontos ini tentu saja ayah dan ketiga kakaknya. "Awalnya tentu saja mereka merasa keberatan," ujarnya kepada Republika.
Tapi tentangan dari orang-orang terdekat yang sangat dicintainya ini tidak membuat Markus surut. Dengan segala keyakinannya, penjaga gawang yang namanya berkibar bersama PSMS Medan ini tetap pada keputusannya menjadi "manusia baru", seorang pemeluk agama Islam.
Karena keteguhan hatinya pula ayah dan ketiga kakaknya akhirnya mengerti keputusan hidup yang diambil Markus. "Pada akhirnya, mereka menyadari saya sudah cukup dewasa dan bisa menentukan jalan hidup yang saya rasa terbaik untuk saya," lanjutnya.
Markus tentu saja sangat sadar dengan berbagai risiko yang harus dihadapi atas keputusannya tersebut. Tak terkecuali menjalani berbagai ritual keagamaan sendirian, berbeda dengan seluruh anggota keluarganya. Meski awalnya diakui sangat berat, Markus akhirnya terbiasa beribadah sendiri.
Salah satu contoh terberat yang harus dilakoni Markus sendirian adalah ketika bulan suci Ramadhan tiba. Di bulan penuh hikmah itu, Markus harus bangun untuk sahur, berbuka, dan menjalankan tarawih sendirian. Begitu juga ketika merayakan hari raya Idulfitri dan Iduladha
Belajar beribadah
Markus memutuskan untuk masuk Islam pada tahun 2004. Itu adalah tahun keduanya bersama PSMS Medan yang baru saja promosi kembali ke Divisi Utama Liga Indonesia (LI). Dalam skuad PSMS tahun 2004 yang ketika itu ditangani pelatih Sutan Harhara, sebagian besar rekannya merupakan pemeluk agama Islam.
Menurut Markus, rekan-rekannya sesama pemain PSMS berperan sangat besar dalam memberikan dukungan moral di awal-awal ia menjadi seorang mualaf. Dari sesama pemain PSMS itulah Markus belajar tata cara sejumlah peribadatan dalam Islam, seperti salat dan berpuasa. "Saya sering salat, belajar, dan bertanya hal-hal seputar Islam kepada mereka," cerita Markus kepada Republika Online.
Bersama para pemain PSMS pula, Markus menjalankan ibadah puasa wajib pertamanya di bulan Ramadan. Meski tidak ada pertandingan, kompetisi LI X/2004 belum usai. Karena itu, pada bulan Ramadan pertamanya sebagai seorang mualaf, Markus dan rekan-rekannya masih menjalani latihan cukup berat.
Bukan lantaran masih bersemangat sebagai muslim baru, Markus tidak menganggap rasa lapar dan haus sebagai halangan untuk menjalani latihan keras. Tapi, Markus sadar benar kalau puasa merupakan sebuah kewajiban yang harus tetap dilakoninya dalam kondisi seberat apa pun.
Atas kesadaran itulah, bulan puasa pertamanya menyisakan kesan tersendiri buat Markus. Sebab, meski latihan berat harus tetap dijalaninya, Markus berhasil menjalankan ibadah puasanya sebulan penuh. Tidak sekalipun ia membatalkan puasanya.
Markus sempat tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan sepanjang bulan Puasa pertamanya. Sebab, Markus mengaku, dalam kesehariannya, ia paling tidak tahan menahan lapar. "Ternyata saya bisa. Bahagianya saya," tutur Markus, mengenang bulan Puasa pertamanya.
Nama Muslimnya digunakan di Kancah Sepak bola
SEPERTI diceritakan di awal tulisan, setelah menjadi mualaf, Markus punya nama muslim Muhammad Haris Maulana. Meski demikian, Markus tetap menggunakan nama lamanya karena kadung dikenal banyak orang.
Tapi pada tahun 2009 atau lima tahun setelah menjadi mualaf, Markus mulai menggunakan nama muslimnya di kancah sepak bola, baik secara nasional maupun internasional. Klub pertama yang mendaftarkan Markus dengan nama M. Haris Maulana adalah Arema Indonesia dalam daftar skuadnya menuju Liga Super Indonesia (LSI) 2009/2010 pada bulan September 2009.
Di pentas internasional, nama M. Haris Maulana pertama kali muncul dalam daftar susunan pemain, ketika tim nasional Indonesia menghadapi Singapura dalam sebuah pertandingan persahabatan di Stadion Nasional Kallang, Singapura, 4 November 2009. Dalam pertandingan yang berakhir 3-1 untuk kekalahan "Merah-Putih" itu, Markus bermain selama 71 menit sebelum digantikan kiper Sriwijaya FC, Ferry Rotinsulu.
Untuk pertandingan internasional Indonesia selanjutnya, seperti dalam empat laga tersisa di babak kualifikasi Piala Asia 2011 melawan Kuwait, Oman, dan Australia, nama M. Haris Maulana terus dipakai Markus. Ketika dinobatkan sebagai salah satu nomine penjaga gawang terbaik Asia (AFC) pada bulan Oktober 2009, nama yang muncul juga M. Haris Maulana.
Meskipun demikian, penjaga gawang yang akhirnya hijarh ke Persib Bandung pada putaran kedua LSI 2009/2010 ini mengatakan, dalam kesehariannya ia tetap dipanggil Markus. "Panggilan saya tetap Markus," katanya, sesaat setelah menandatangani kontrak dengan manajemen Persib.
Memimpikan Bisa Menginjakkan Kaki di Tanah Suci
SEBAGAI seorang mualaf, Markus terus berusaha memperbanyak jumlah amalan ibadahnya. Bukan hanya ibadah-ibadah wajib seperti salat dan berpuasa, beberapa amalam yang hukumnya sunat pun mulai dilakoninya. Markus juga terus berupaya meningkatkan dan menyempurnakan kualitas ibadahnya.
Selain bertanya langsung, baik kepada ahlinya maupun teman-temannya, cara lain yang dilakukan Markus untuk meningkatkan pengetahuannya tentang Islam adalah membaca buku-buku Islam. Untuk itu, Markus tidak segan-segan membeli buku bacaan, seperti buku panduan salat dan kumpulan doa.
Meskipun masih memiliki keterbatasan dalam hal membaca huruf Arab, keinginan Markus untuk belajar tak pernah surut. "Saya biasanya membaca tulisan latinnya saja, karena memang bacaan arab saya masih kurang lancar," akunya kepada Republika Online.
Selain ibadah wajib, Markus pun mulai belajar menjalankan ibadah sunat seperti puasa Senin-Kamis. Markus juga mengaku terus belajar mengaji bacaan-bacaan Alquran.
Satu hal lagi, seperti halnya umat muslim lainnya, Markus pun ternyata memimpikan bisa menginjakkan kakinya di Tanah Suci Mekah. Markus berharap, suatu saat kelak ia bisa menjalankan ibadah umrah, dan bahkan haji ke tanah suci umat Islam itu.
"Pastilah, sebagai muslim saya ingin sekali bisa menjalankan ibadah umrah ataupun haji," ujarnya
Umrah Bersama Keluarga Wakil Manajer Persib
KIPRAH Markus bersama Arema Indonesia --klub pertama yang mendaftarkan nama muslimnya-- tidak tuntas. Karena ada konflik dengan pelatih Robert Rene Alberts (Belanda), Markus terdepak dari skuad Arema. Meskipun demikian, Markus bisa terus mengibarkan namanya bersama Persib Bandung yang menampungnya di putaran kedua Liga Super Indonesia (LSI) 2009/ 2010.
Adalah hubungan baiknya dengan Manajer Persib, H. Umuh Muchtar yang membawa Markus ke Bandung. Di klub kebanggaan bobotoh ini pula kemudian Markus diperkenalkan dengan seorang pengusaha tinta bernama H. Deddy Firmansyah yang menjabat sebagai Wakil Manajer Persib.
Selain bisa terus mempertahankan eksistensinya di pentas sepak bola nasional, di Persib, Markus pun semakin banyak memiliki kesempatan belajar agama Islam. Keinginannya yang kuat untuk belajar ditunjukkan Markus dengan rajinnya ia mengikuti pengajian dan doa bersama yang selalu dilaksanakan seluruh pemain dan ofisial tim Persib setiap menjelang pertandingan. Markus bisa memperdalam pengetahuannya tentang Islam, karena dalam setiap acara pengajian dan doa bersama itu, Persib selalu menghadirkan para ustaz untuk memberikan tausiah.
Bahkan, sekitar bulan Juli 2010, Markus akhirnya bisa mewujudkan impiannya menginjakkan kaki di Tanah Suci Mekah. Ketika itu, tepatnya menjelang babak 8 Besar Piala Indonesia 2010, Markus berangkat ke Tanah Suci untuk menjalankan ibadah umrah bersama keluarga Wakil Manajer Persib.
"Meski sempat tertunda beberapa hari akibat kendala visa, waktu itu kami berlima, termasuk Markus, alhamdulillah bisa berangkat menunaikan ibadah umrah," kata Deddy.
"Selain berdoa untuk diri sendiri, di sana (Mekah, red), saya juga mendoakan kesuksesan Persib," ujar Markus sekembalinya dari Tanah Suci.
Sambil menunggu kesempatan berikutnya untuk menunaikan ibadah haji yang masih tetap diimpikannya, Markus berharap, kualitas ibadahnya semakin meningkat sekembalinya dari Tanah Suci. Amin.
Mengakhiri Masa lajangnya dengan Menikahi Kiki Amalia
Kiper Tim Nasional Indonesia Markus Haris Maulana alias Markus Horison resmi mengakhiri masa lajangnya, Sabtu (27/11). Kiper yang memperkut klub Persib Bandung itu mempersunting selebriti Kiki Amalia.
Respesi pernikahan Markus dan Kiki Amalia berlangsung di Gedung Kriya Asri, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan. Selain dihadiri rekan-rekan pemain timnas dan Persib Bandung, pernikahan Markus juga dihadiri kalangan selebritis.
Andi Darussalam Tabussala, Presiden Direktur PT Liga Indonesia bertindak sebagai wali kedua mempelai.
Tadinya, Markus yang pernah menjadi nominator pemain terbaik Asia 2009 ini berencana menikahi Kiki Amalia setelah tampil di pertandingan Piala AFF, Desember mendatang. Namun karena ada pertimbangan lain, pernikahan keduanya dilangsungkan lebih cepat
Nama lengkap : Markus Horison Ririhina
Nama Muslim : Muhammad Haris
Tempat, Tanggal lahir : Pangkalan Brandan, Medan, 14 Maret 1981
Orang Tua : Ayah = Julius Ririhina
Ibu = Yenny Rosmawati (Almh)
Anak ke : 4 (bungsu) dari empat bersaudara
Tinggi Badan : 186 cm
Berat Badan : 75 Kg
Posisi : Penjaga Gawang
Klub Sekarang : PSMS Medan
Klub remaja : Diklat PPLP Sumatra Selatan (1998-2000)
Klub profesional :
- (2000-2001) : PSL Langkat
- (2001-2002) : Persiraja Banda Aceh
- (2002-2003) : PSKB Binjai
- (2003-2008) : PSMS Medan
- (2008) : Persik Kediri
- (2008-Sekarang) : PSMS Medan
Karier di Timnas: (2007-Sekarang)
Debut Timnas : Indonesia vs Korea Selatan di Piala Asia di Jakarta (0-1)
Prestasi :
- 2004 : Juara Turnamen Piala Emas Bang Yos Bersama PSMS Medan
- 2005 : Juara Turnamen Piala Emas Bang Yos Bersama PSMS Medan
- 2006 : Juara Turnamen Piala Emas Bang Yos Bersama PSMS Medan
- 2006 : Pemain Terbaik Piala Emas Bang Yos
- 2007-2008 : Penjaga Gawang Terbaik versi Liga Indonesia
- 2007-2008 : Runner Up Liga Indonesia (PSMS Medan)
- 2008 : Juara Piala Kemerdekaan 2008 melawan Libya (3-1, Libya WO)
- 2008 : Runner Up Grand Royal Challenge 2008 di Myanmar (3-1).
sumber ;persibonline dan berbagai sumber
Pada tahun 2004, ketika berkostum PSMS Medan, Markus mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Ketika itu, penjaga gawang yang mengawali kiprahnya di sepak bola dengan bergabung bersama SSB Brandan Putra ini memutuskan memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Muhammad Haris Maulana.
"Saya masuk Islam tanpa ada paksaan dari siapa pun. Masuk Islam merupakan keinginan saya sendiri," katanya seperti dirilis Republika Online.
Kendati baru masuk Islam ketika usianya menginjak 23 tahun, Markus sebenarnya sudah mengenal Islam sejak bocah. Sebab ibunya yang orang Aceh, terlahir dari keluarga muslim. "Ibu saya awalnya Islam. Sejak menikah, ibu berganti kepercayaan mengikuti kepercayaan ayah," tuturnya.
Diceritakan Markus, sejak kecil ia memang memiliki kedekatan dengan keluarga dari pihak ibu. Tak heran, setiap kali liburan sekolah, Markus sering menghabiskan waktunya di rumah kerabat ibunya di Aceh. Makanya, Markus kecil sudah mengenal peribadatan umat Islam, seperti salat, puasa, dan mengaji. "Waktu kecil, saya suka ikut saudara-saudara ke masjid, ikut salat, dan mengaji. Dari situlah saya mendapatkan gambaran tentang Islam," katanya.
Dalam kesehariannya sebagai pemain sepak bola, Markus juga banyak bergaul dengan para pemain yang kebanyakan beragama Islam. Tak terkecuali rekan-rekannya di PSMS. Menurut Markus, pergaulan dengan para pemain yang kebanyakan beragama Islam itu semakin mengenalkannya terhadap kehidupan seorang muslim.
Sempat Ditentang Keluarga
KENDATI sudah memiliki nama muslim, yaitu Muhammad Haris Maulana, nama Markus Horison tetap digunakan dalam kesehariannya. Pasalnya nama ini kadung populer di pentas sepak bola nasional, jauh sebelum Markus memutuskan masuk Islam pada tahun 2004.
Karena menyangkut agama dan keyakinan, keputusan Markus menjadi mualaf mendapatkan rintangan. Orang pertama yang menentang keputusan kiper berkepala plontos ini tentu saja ayah dan ketiga kakaknya. "Awalnya tentu saja mereka merasa keberatan," ujarnya kepada Republika.
Tapi tentangan dari orang-orang terdekat yang sangat dicintainya ini tidak membuat Markus surut. Dengan segala keyakinannya, penjaga gawang yang namanya berkibar bersama PSMS Medan ini tetap pada keputusannya menjadi "manusia baru", seorang pemeluk agama Islam.
Karena keteguhan hatinya pula ayah dan ketiga kakaknya akhirnya mengerti keputusan hidup yang diambil Markus. "Pada akhirnya, mereka menyadari saya sudah cukup dewasa dan bisa menentukan jalan hidup yang saya rasa terbaik untuk saya," lanjutnya.
Markus tentu saja sangat sadar dengan berbagai risiko yang harus dihadapi atas keputusannya tersebut. Tak terkecuali menjalani berbagai ritual keagamaan sendirian, berbeda dengan seluruh anggota keluarganya. Meski awalnya diakui sangat berat, Markus akhirnya terbiasa beribadah sendiri.
Salah satu contoh terberat yang harus dilakoni Markus sendirian adalah ketika bulan suci Ramadhan tiba. Di bulan penuh hikmah itu, Markus harus bangun untuk sahur, berbuka, dan menjalankan tarawih sendirian. Begitu juga ketika merayakan hari raya Idulfitri dan Iduladha
Belajar beribadah
Markus memutuskan untuk masuk Islam pada tahun 2004. Itu adalah tahun keduanya bersama PSMS Medan yang baru saja promosi kembali ke Divisi Utama Liga Indonesia (LI). Dalam skuad PSMS tahun 2004 yang ketika itu ditangani pelatih Sutan Harhara, sebagian besar rekannya merupakan pemeluk agama Islam.
Menurut Markus, rekan-rekannya sesama pemain PSMS berperan sangat besar dalam memberikan dukungan moral di awal-awal ia menjadi seorang mualaf. Dari sesama pemain PSMS itulah Markus belajar tata cara sejumlah peribadatan dalam Islam, seperti salat dan berpuasa. "Saya sering salat, belajar, dan bertanya hal-hal seputar Islam kepada mereka," cerita Markus kepada Republika Online.
Bersama para pemain PSMS pula, Markus menjalankan ibadah puasa wajib pertamanya di bulan Ramadan. Meski tidak ada pertandingan, kompetisi LI X/2004 belum usai. Karena itu, pada bulan Ramadan pertamanya sebagai seorang mualaf, Markus dan rekan-rekannya masih menjalani latihan cukup berat.
Bukan lantaran masih bersemangat sebagai muslim baru, Markus tidak menganggap rasa lapar dan haus sebagai halangan untuk menjalani latihan keras. Tapi, Markus sadar benar kalau puasa merupakan sebuah kewajiban yang harus tetap dilakoninya dalam kondisi seberat apa pun.
Atas kesadaran itulah, bulan puasa pertamanya menyisakan kesan tersendiri buat Markus. Sebab, meski latihan berat harus tetap dijalaninya, Markus berhasil menjalankan ibadah puasanya sebulan penuh. Tidak sekalipun ia membatalkan puasanya.
Markus sempat tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan sepanjang bulan Puasa pertamanya. Sebab, Markus mengaku, dalam kesehariannya, ia paling tidak tahan menahan lapar. "Ternyata saya bisa. Bahagianya saya," tutur Markus, mengenang bulan Puasa pertamanya.
Nama Muslimnya digunakan di Kancah Sepak bola
SEPERTI diceritakan di awal tulisan, setelah menjadi mualaf, Markus punya nama muslim Muhammad Haris Maulana. Meski demikian, Markus tetap menggunakan nama lamanya karena kadung dikenal banyak orang.
Tapi pada tahun 2009 atau lima tahun setelah menjadi mualaf, Markus mulai menggunakan nama muslimnya di kancah sepak bola, baik secara nasional maupun internasional. Klub pertama yang mendaftarkan Markus dengan nama M. Haris Maulana adalah Arema Indonesia dalam daftar skuadnya menuju Liga Super Indonesia (LSI) 2009/2010 pada bulan September 2009.
Di pentas internasional, nama M. Haris Maulana pertama kali muncul dalam daftar susunan pemain, ketika tim nasional Indonesia menghadapi Singapura dalam sebuah pertandingan persahabatan di Stadion Nasional Kallang, Singapura, 4 November 2009. Dalam pertandingan yang berakhir 3-1 untuk kekalahan "Merah-Putih" itu, Markus bermain selama 71 menit sebelum digantikan kiper Sriwijaya FC, Ferry Rotinsulu.
Untuk pertandingan internasional Indonesia selanjutnya, seperti dalam empat laga tersisa di babak kualifikasi Piala Asia 2011 melawan Kuwait, Oman, dan Australia, nama M. Haris Maulana terus dipakai Markus. Ketika dinobatkan sebagai salah satu nomine penjaga gawang terbaik Asia (AFC) pada bulan Oktober 2009, nama yang muncul juga M. Haris Maulana.
Meskipun demikian, penjaga gawang yang akhirnya hijarh ke Persib Bandung pada putaran kedua LSI 2009/2010 ini mengatakan, dalam kesehariannya ia tetap dipanggil Markus. "Panggilan saya tetap Markus," katanya, sesaat setelah menandatangani kontrak dengan manajemen Persib.
Memimpikan Bisa Menginjakkan Kaki di Tanah Suci
SEBAGAI seorang mualaf, Markus terus berusaha memperbanyak jumlah amalan ibadahnya. Bukan hanya ibadah-ibadah wajib seperti salat dan berpuasa, beberapa amalam yang hukumnya sunat pun mulai dilakoninya. Markus juga terus berupaya meningkatkan dan menyempurnakan kualitas ibadahnya.
Selain bertanya langsung, baik kepada ahlinya maupun teman-temannya, cara lain yang dilakukan Markus untuk meningkatkan pengetahuannya tentang Islam adalah membaca buku-buku Islam. Untuk itu, Markus tidak segan-segan membeli buku bacaan, seperti buku panduan salat dan kumpulan doa.
Meskipun masih memiliki keterbatasan dalam hal membaca huruf Arab, keinginan Markus untuk belajar tak pernah surut. "Saya biasanya membaca tulisan latinnya saja, karena memang bacaan arab saya masih kurang lancar," akunya kepada Republika Online.
Selain ibadah wajib, Markus pun mulai belajar menjalankan ibadah sunat seperti puasa Senin-Kamis. Markus juga mengaku terus belajar mengaji bacaan-bacaan Alquran.
Satu hal lagi, seperti halnya umat muslim lainnya, Markus pun ternyata memimpikan bisa menginjakkan kakinya di Tanah Suci Mekah. Markus berharap, suatu saat kelak ia bisa menjalankan ibadah umrah, dan bahkan haji ke tanah suci umat Islam itu.
"Pastilah, sebagai muslim saya ingin sekali bisa menjalankan ibadah umrah ataupun haji," ujarnya
Umrah Bersama Keluarga Wakil Manajer Persib
KIPRAH Markus bersama Arema Indonesia --klub pertama yang mendaftarkan nama muslimnya-- tidak tuntas. Karena ada konflik dengan pelatih Robert Rene Alberts (Belanda), Markus terdepak dari skuad Arema. Meskipun demikian, Markus bisa terus mengibarkan namanya bersama Persib Bandung yang menampungnya di putaran kedua Liga Super Indonesia (LSI) 2009/ 2010.
Adalah hubungan baiknya dengan Manajer Persib, H. Umuh Muchtar yang membawa Markus ke Bandung. Di klub kebanggaan bobotoh ini pula kemudian Markus diperkenalkan dengan seorang pengusaha tinta bernama H. Deddy Firmansyah yang menjabat sebagai Wakil Manajer Persib.
Selain bisa terus mempertahankan eksistensinya di pentas sepak bola nasional, di Persib, Markus pun semakin banyak memiliki kesempatan belajar agama Islam. Keinginannya yang kuat untuk belajar ditunjukkan Markus dengan rajinnya ia mengikuti pengajian dan doa bersama yang selalu dilaksanakan seluruh pemain dan ofisial tim Persib setiap menjelang pertandingan. Markus bisa memperdalam pengetahuannya tentang Islam, karena dalam setiap acara pengajian dan doa bersama itu, Persib selalu menghadirkan para ustaz untuk memberikan tausiah.
Bahkan, sekitar bulan Juli 2010, Markus akhirnya bisa mewujudkan impiannya menginjakkan kaki di Tanah Suci Mekah. Ketika itu, tepatnya menjelang babak 8 Besar Piala Indonesia 2010, Markus berangkat ke Tanah Suci untuk menjalankan ibadah umrah bersama keluarga Wakil Manajer Persib.
"Meski sempat tertunda beberapa hari akibat kendala visa, waktu itu kami berlima, termasuk Markus, alhamdulillah bisa berangkat menunaikan ibadah umrah," kata Deddy.
"Selain berdoa untuk diri sendiri, di sana (Mekah, red), saya juga mendoakan kesuksesan Persib," ujar Markus sekembalinya dari Tanah Suci.
Sambil menunggu kesempatan berikutnya untuk menunaikan ibadah haji yang masih tetap diimpikannya, Markus berharap, kualitas ibadahnya semakin meningkat sekembalinya dari Tanah Suci. Amin.
Mengakhiri Masa lajangnya dengan Menikahi Kiki Amalia
Kiper Tim Nasional Indonesia Markus Haris Maulana alias Markus Horison resmi mengakhiri masa lajangnya, Sabtu (27/11). Kiper yang memperkut klub Persib Bandung itu mempersunting selebriti Kiki Amalia.
Respesi pernikahan Markus dan Kiki Amalia berlangsung di Gedung Kriya Asri, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan. Selain dihadiri rekan-rekan pemain timnas dan Persib Bandung, pernikahan Markus juga dihadiri kalangan selebritis.
Andi Darussalam Tabussala, Presiden Direktur PT Liga Indonesia bertindak sebagai wali kedua mempelai.
Tadinya, Markus yang pernah menjadi nominator pemain terbaik Asia 2009 ini berencana menikahi Kiki Amalia setelah tampil di pertandingan Piala AFF, Desember mendatang. Namun karena ada pertimbangan lain, pernikahan keduanya dilangsungkan lebih cepat
Nama lengkap : Markus Horison Ririhina
Nama Muslim : Muhammad Haris
Tempat, Tanggal lahir : Pangkalan Brandan, Medan, 14 Maret 1981
Orang Tua : Ayah = Julius Ririhina
Ibu = Yenny Rosmawati (Almh)
Anak ke : 4 (bungsu) dari empat bersaudara
Tinggi Badan : 186 cm
Berat Badan : 75 Kg
Posisi : Penjaga Gawang
Klub Sekarang : PSMS Medan
Klub remaja : Diklat PPLP Sumatra Selatan (1998-2000)
Klub profesional :
- (2000-2001) : PSL Langkat
- (2001-2002) : Persiraja Banda Aceh
- (2002-2003) : PSKB Binjai
- (2003-2008) : PSMS Medan
- (2008) : Persik Kediri
- (2008-Sekarang) : PSMS Medan
Karier di Timnas: (2007-Sekarang)
Debut Timnas : Indonesia vs Korea Selatan di Piala Asia di Jakarta (0-1)
Prestasi :
- 2004 : Juara Turnamen Piala Emas Bang Yos Bersama PSMS Medan
- 2005 : Juara Turnamen Piala Emas Bang Yos Bersama PSMS Medan
- 2006 : Juara Turnamen Piala Emas Bang Yos Bersama PSMS Medan
- 2006 : Pemain Terbaik Piala Emas Bang Yos
- 2007-2008 : Penjaga Gawang Terbaik versi Liga Indonesia
- 2007-2008 : Runner Up Liga Indonesia (PSMS Medan)
- 2008 : Juara Piala Kemerdekaan 2008 melawan Libya (3-1, Libya WO)
- 2008 : Runner Up Grand Royal Challenge 2008 di Myanmar (3-1).
sumber ;persibonline dan berbagai sumber
Mantan Diplomat Jerman: Ada Tiga Hal yang Membuat Saya Masuk Islam
Di kalangan cendikiawan Muslim nama Dr Murad Hoffmann bukan nama yang asing lagi. Mantan dubes Jerman yang pernah bertugas di Al-Jazair dan Maroko ini bukan hanya terkenal karena ia adalah seorang mualaf tapi juga karena buah pikirannya tentang Islam yang dituangkan dalam buku-buku yang sudah banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Diantara buku-bukunya yang terkenal adalah "Diary of A German Muslim" dan "Journey to Islam" yang menceritakan bagaimana Hoffmann yang berasal dari keluarga Katolik memutuskan untuk menjadi seorang Muslim.
Meski demikian tak banyak yang mengetahui apa sebenarnya pengalaman batin yang dialaminya, yang mendasari keputusan besarnya untuk pindah agama dari seorang Katolik menjadi seorang Muslim. Menurut Doktor Murad, ada tiga hal yang menjadi faktor penentu atas keputusannya menjadi seorang Muslim.
Pertama, ketika ia menjadi dubes di Al-Jazair pada tahun 1962. Saat itu Al-Jazair sedang memperjuangkan kemerdekaannya dari Prancis. Prancis membuat kesepakatan dengan kelompok pejuang, jika mereka bersedia melakukan gencatan senjata maka Prancis akan menyerahkan kedaulatan Al-Jazair ke tangan mereka. Tapi orang-orang Prancis yang tinggal di Al-Jazair selalu melakukan provokasi agar para pejuang melakukan perlawanan sehingga Prancis bisa mencari alasan untuk menyalahkan kelompok pejuang kemerdekaan Al-Jazair.
Keteguhan para pejuang untuk tidak terpancing oleh provokasi membuat Doktor Murad kagum. "Saya sangat kagum dengan tingkat kedisiplinan mereka, yang membuat saya tertarik membaca Al-Quran untuk mencari tahu apa yang telah memberikan kekuatan yang begitu besar pada pejuang-pejuang Al-Jazair itu," ujar Murad.
"Saya berpikir, saya sudah pindah agama meski belum secara resmi. Dan saat itulah saya berpikir untuk meninggalkan semua ideologi Kristen," sambungnya.
Faktor yang kedua adalah seni Islami. Murad mengungkapkan, selain diplomat ia juga seorang kritikus tari ballet dan untuk itu ia sering berpergian, hampir 50 kali dalam satu tahun terutama ke AS untuk menyaksikan pertunjukan ballet dan mengkritisi pertunjukan-pertunjukan itu. "Sebagai seorang kritikus, saya harus punya standar-standar tertentu. Tapi semua standar itu tak berarti sama sekali buat saya ketika saya melihat produk seni Islam. Saya pertamakali menyaksikan hasil karaya seni Islam di kota-kota Spanyol seperti Granada, Cordoba, Seville dan Andalusia," papar Murad.
"Karya seni Islam menyentuh saya dengan cara yang tidak pernah saya rasakan terjadap karya seni lainnya," sambung Murad.
Dan hal ketiga yang menjadi faktor penentu keputusannya memeluk Islam adalah setelah ia mengetahui bahwa semua filsuf-filsuf terbesar dan termashyur di dunia, semuanya adalah Muslim. "Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al-Ghazali dan Ibnu Rush adalah beberapa diantaranya. Saya merasa kesal dengan diri saya sendiri, mengapa saya tidak mengetahui hal itu sebelumnya," tutur Murad.
Beberapa filsuf terkenal, sambung Murad, pemikiran-pemikirannya sangat dipengaruhi oleh pemikiran Ibnu Khaldun yang menjadi pelopor ilmu sosiologi dan sejarawan pertama. "Satu orang penua dua bidang ilmu pengetahuan. Tetapi sosok Ibnu Khaldun tidak dikenal oleh masyakarat di Eropa sampai abad ke-20 meskipun sejumlah ilmuwan Eropa sudah mengenal sosok cendikiawan Muslim itu sejak abad ke-19," tukasnya.
Pada tahun 1980, Departemen Luar Negeri Jerman memberikan "pembekalan" berupa pengetahuan tentang Islam pada calon-calon dubesnya yang akan ditugaskan ke negara-negara Muslim. Kebetulan momen itu bertepatan dengan hari ulang tahun putera Murad. "Saya pun bilang pada anak saya bahwa saya akan memberikan sesuatu namun bukan yang berhubungan dengan uang tapi berhubungan nilai-nilai yang luhur," ungkap Murad.
"Saya pun mulai menulis semua hal yang menurut saya penting tentang apa yang saya temukan dalam Islam. Semuanya tertulis dalam 14 halaman," sambungnya.
Murad lalu menunjukkan tulisannya pada Imam Muslim asal Dusseldorf yang memberikan pelatihan pada para diplomat Jerman itu. Keesokan harinya, imam tadi bertanya apakah Murad meyakini apa yang telah ditulisnya dan Murad menjawab "ya".
"Jika kamu yakin, maka kamu adalah seorang Muslim," kata Murad menirukan ucapan imam Muslim yang membaca tulisannya.
Murad kemudian mempublikasikan tulisannya itu dan disebarluaskan di pelosok Jerman. Ia secara resmi mengucapkan dua kalimat syahadat di Islamic Center Colonia pada bulan September 1980. Ia memberitahukan pada kementerian luar negeri Jerman tentang keislamannya dan menolak ditugaskan ke Israel atau Vatikan.
Sejak itu Murad rajin menulis buku-buku Islami. Buku pertamanya, "Diary of a German Muslim'" sudah dialihbahasakan ke berbagai bahasa di seluruh dunia. Sepanjang hidupnya sebagai Muslim, Murad yang beristerikan seorang Muslimah asal Turki sudah dua kali menunaikan ibadah haji dan lima kali berumrah.
Sekarang, Murad sudah berusia 78 tahun dan faktor usia membuatnya membatasi sejumlah aktivitas dan perjalanan ke luar negeri. Sedikitnya ada 13 buku yang ditulis Murad dan 250 artikel tinjauan buku yang ditulisnya untuk berbagai organisasi antara lain untuk lembaga studi Islam di Islamabad, American Journal of Islamic Social Science Studies di Virginia dan Muslim World Book Review di Inggris. (eramuslim)
Meski demikian tak banyak yang mengetahui apa sebenarnya pengalaman batin yang dialaminya, yang mendasari keputusan besarnya untuk pindah agama dari seorang Katolik menjadi seorang Muslim. Menurut Doktor Murad, ada tiga hal yang menjadi faktor penentu atas keputusannya menjadi seorang Muslim.
Pertama, ketika ia menjadi dubes di Al-Jazair pada tahun 1962. Saat itu Al-Jazair sedang memperjuangkan kemerdekaannya dari Prancis. Prancis membuat kesepakatan dengan kelompok pejuang, jika mereka bersedia melakukan gencatan senjata maka Prancis akan menyerahkan kedaulatan Al-Jazair ke tangan mereka. Tapi orang-orang Prancis yang tinggal di Al-Jazair selalu melakukan provokasi agar para pejuang melakukan perlawanan sehingga Prancis bisa mencari alasan untuk menyalahkan kelompok pejuang kemerdekaan Al-Jazair.
Keteguhan para pejuang untuk tidak terpancing oleh provokasi membuat Doktor Murad kagum. "Saya sangat kagum dengan tingkat kedisiplinan mereka, yang membuat saya tertarik membaca Al-Quran untuk mencari tahu apa yang telah memberikan kekuatan yang begitu besar pada pejuang-pejuang Al-Jazair itu," ujar Murad.
"Saya berpikir, saya sudah pindah agama meski belum secara resmi. Dan saat itulah saya berpikir untuk meninggalkan semua ideologi Kristen," sambungnya.
Faktor yang kedua adalah seni Islami. Murad mengungkapkan, selain diplomat ia juga seorang kritikus tari ballet dan untuk itu ia sering berpergian, hampir 50 kali dalam satu tahun terutama ke AS untuk menyaksikan pertunjukan ballet dan mengkritisi pertunjukan-pertunjukan itu. "Sebagai seorang kritikus, saya harus punya standar-standar tertentu. Tapi semua standar itu tak berarti sama sekali buat saya ketika saya melihat produk seni Islam. Saya pertamakali menyaksikan hasil karaya seni Islam di kota-kota Spanyol seperti Granada, Cordoba, Seville dan Andalusia," papar Murad.
"Karya seni Islam menyentuh saya dengan cara yang tidak pernah saya rasakan terjadap karya seni lainnya," sambung Murad.
Dan hal ketiga yang menjadi faktor penentu keputusannya memeluk Islam adalah setelah ia mengetahui bahwa semua filsuf-filsuf terbesar dan termashyur di dunia, semuanya adalah Muslim. "Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al-Ghazali dan Ibnu Rush adalah beberapa diantaranya. Saya merasa kesal dengan diri saya sendiri, mengapa saya tidak mengetahui hal itu sebelumnya," tutur Murad.
Beberapa filsuf terkenal, sambung Murad, pemikiran-pemikirannya sangat dipengaruhi oleh pemikiran Ibnu Khaldun yang menjadi pelopor ilmu sosiologi dan sejarawan pertama. "Satu orang penua dua bidang ilmu pengetahuan. Tetapi sosok Ibnu Khaldun tidak dikenal oleh masyakarat di Eropa sampai abad ke-20 meskipun sejumlah ilmuwan Eropa sudah mengenal sosok cendikiawan Muslim itu sejak abad ke-19," tukasnya.
Pada tahun 1980, Departemen Luar Negeri Jerman memberikan "pembekalan" berupa pengetahuan tentang Islam pada calon-calon dubesnya yang akan ditugaskan ke negara-negara Muslim. Kebetulan momen itu bertepatan dengan hari ulang tahun putera Murad. "Saya pun bilang pada anak saya bahwa saya akan memberikan sesuatu namun bukan yang berhubungan dengan uang tapi berhubungan nilai-nilai yang luhur," ungkap Murad.
"Saya pun mulai menulis semua hal yang menurut saya penting tentang apa yang saya temukan dalam Islam. Semuanya tertulis dalam 14 halaman," sambungnya.
Murad lalu menunjukkan tulisannya pada Imam Muslim asal Dusseldorf yang memberikan pelatihan pada para diplomat Jerman itu. Keesokan harinya, imam tadi bertanya apakah Murad meyakini apa yang telah ditulisnya dan Murad menjawab "ya".
"Jika kamu yakin, maka kamu adalah seorang Muslim," kata Murad menirukan ucapan imam Muslim yang membaca tulisannya.
Murad kemudian mempublikasikan tulisannya itu dan disebarluaskan di pelosok Jerman. Ia secara resmi mengucapkan dua kalimat syahadat di Islamic Center Colonia pada bulan September 1980. Ia memberitahukan pada kementerian luar negeri Jerman tentang keislamannya dan menolak ditugaskan ke Israel atau Vatikan.
Sejak itu Murad rajin menulis buku-buku Islami. Buku pertamanya, "Diary of a German Muslim'" sudah dialihbahasakan ke berbagai bahasa di seluruh dunia. Sepanjang hidupnya sebagai Muslim, Murad yang beristerikan seorang Muslimah asal Turki sudah dua kali menunaikan ibadah haji dan lima kali berumrah.
Sekarang, Murad sudah berusia 78 tahun dan faktor usia membuatnya membatasi sejumlah aktivitas dan perjalanan ke luar negeri. Sedikitnya ada 13 buku yang ditulis Murad dan 250 artikel tinjauan buku yang ditulisnya untuk berbagai organisasi antara lain untuk lembaga studi Islam di Islamabad, American Journal of Islamic Social Science Studies di Virginia dan Muslim World Book Review di Inggris. (eramuslim)
Subscribe to:
Posts (Atom)